Latar Belakang Visi Misi Nilai Keunggulan Struktur Organisasi Susunan Pengurus
TKIT Al-Ummah KBIT Al-Ummah TAAS Al-Ummah


Galeri Foto »

Anda Pengunjung Ke »

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 April 2012 | 08.00 | 0 Comments

Gadis kecil yang bercita-cita menjadi guru itu…


Ketika anak-anak Al Ummah riuh tertawa sambil bermain air dan pasir, melukis, mencampur dan menemukan warna, jauh di belakang zaman, seraut wajah bulat kanak-kanak tampak kecewa. Bening mutiara berjatuhan di pipi cempluknya. Ia tidak diijinkan bermain bunga dan tanah. Ia tidak mengerti kenapa si mbok begitu menjaga kehalusan tangannya. Gadis kecil itu tidak butuh perhatian dan rasa hormat yang luar biasa padanya. Gadis kecil itu hanya ingin bermain bebas dimana saja dengan siapa saja.

Di Al Ummah, kita bertasbih mendengar anak-anak terbiasa melafalkan surat-surat dalam Al Quran, melafalkan hadist dan doa beserta artinya. Disana si gadis kecil di hardik dan diusir. Sang guru ngaji tidak suka ia banyak bertanya Sungguh…ia hanya ingin tahu terjemahan Al Qur’an yang dibacanya. Sang guru menganggap pertanyaannya tabu luar biasa.

Belum genap 6 tahun usianya ketika gadis kecil itu memasuki sekolah dasar. Tempat ia begitu penasaran dengan satu kata, “cita-cita”. Lagi-lagi mata beningnya berkaca-kaca ketika kakak laki-lakinya menjawab pertanyaannya.

“Wanita Jawa? Tentu saja jadi permaisuri atau….jadi ronggeng” jawab kakaknya enteng.

“Tidak, aku harus jadi sesuatu yang lebih berarti” tekad sang gadis kecil dalam hati.

Menginjak remaja, gadis itu tak kuasa melawan konsekwensi darah ningrat yang mengalir dalam tubuhnya di 12 tahun usianya. Burung lincah itu harus tetap dalam sangkarnya.

Namun, dalam pingitan di penjaranya yang penuh ukir aristokrat Jawa, ia memperoleh jawaban atas pertanyaannya. Guru. Ya…dengan menjadi guru ia bisa memberikan ilmu pengetahuan kepada rakyatnya yang terjajah. Dengan menjadi guru ia berpeluang memberikan pendidikan bagi negeri yang sangat dicintainya. Dengan menjadi guru berarti pula ia membuka gerbang perubahan untuk bangsanya ke masa yang lebih maju dan beradab.

Di zaman dimana tulis menulis adalah expensive & impossible activity bagi pribumi Jawa, apalagi wanita. Sang gadis Jawa tulen itu telah menuliskan ratusan surat berbahasa Belanda. Surat-surat yang membawa serta gagasan, pemikiran, kritik bahkan blueprint untuk pendidikan dan kesejahteraan rakyatnya itu telah menggetarkan tangan para pejabat Belanda yang menerima surat-suratnya.

Melalui tinta penanya, seni ukir Jepara dan Batik Jawa hasil karya tangan-tangan pribumi yang tak pernah mengenyam sekolah dihargai di mata dunia. Melalui tinta penanya, tergopoh-gopoh para politikus etis Belanda berebut mendukung berdirinya sekolah untuk pribumi Jawa.

“Tak boleh lama” kata hati si gadis berapi-api. Selepas masa pingitannya, masih di belasan tahun usianya, dibukalah sekolah dasar gadis pribumi pertama di Jawa, bahkan di Indonesia. Gadis yang beranjak dewasa itu menyebut sekolahnya sebagai ‘Sebuah Keluarga Besar yang Akrab’.

Pagi yang cerah. Ketika sang gadis mengajar baca tulis dan ketrampilan hidup pada anak-anak pribumi di sekolahnya, sebuah surat menggenapkan kebahagiaannya. Permohonan beasiswa studi di Belanda terwujud. Siapa sangka? Hati agung sang gadis lebih ningrat dari namanya. Ia berikan beasiswa yang sudah di depan mata kepada salah satu putra terbaik bangsa yang tidak pernah dikenalnya, Agus Salim. Ia percayakan kelas mungilnya yang makin ramai dengan tawa siswa kepada adik-adik binaannya.

Gadis itu memilih untuk menyambut surat yang datang beberapa hari kemudian. Dari Bupati Rembang yang telah mendengar sepak terjangnya dan memohon diizinkan mendukung perjuangannya.

“Ataukah karena sekarang ini ada kesempatan yang lebih baik lagi untuk mewujudkan cita-cita saya hendak bekerja untuk bangsa kami? Di sisi seorang laki-laki yang cakap dan mulia, yang saya hormati, yang bersama saya mencintai rakyat kecil dan yang akan membantu saya sekuat tenaga di dalam usaha saya, saya akan dapat jauh lebih banyak bekerja untuk bangsa kami daripada yang mungkin akan dapat kami lakukan sebagai dua orang perempuan yang berdiri sendiri”
(RA Kartini, 1 Agustus 1903)

Tentu saja, kata kita, Kartini tidak perlu demikian jika ia hidup di zaman ini dimana begitu banyak orang yang ingin jadi guru (meski beragam motivasinya). Namun, dizamannya, Kartini adalah single fighter di kancah pendidikan. Ia memahami bahwa kemerdekaan negerinya tidak cukup diperjuangkan dengan darah tapi kemerdekaan yang berkualitas membutuhkan pendidikan yang berkualitas.

Kartini lebih memilih menjadi “Ibu Masyarakat” (tulis Kartini) dengan mengasuh enam anak Bupati Rembang dan membuka sekolah baru di rumah suami yang mendukung lahir batin perjuangannya. Hanya satu motivasi dibalik luasnya samudra pengorbanannya-keikhlasannya, sebagaimana yang ia tulis dalam suratnya “Jalan kepada Allah – jalan ke arah kebebasan sejati hanyalah satu. Siapa yang sesungguhnya mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia pun, ia sebenar-benarnya bebas” (RA Kartini, Oktober 1900)[]


Penulis : Musrifah, M.Med Kom
Pendidik di Al Ummah Gresik
Read More - Gadis kecil yang bercita-cita menjadi guru itu…

Minggu, 04 Desember 2011 | 21.00 | 0 Comments

Nafsu Pahlawan


“Datanglah. Waktuku amat sempit. Ada yang ingin aku ceritakan padamu. Bisa jeng menemuiku?”

Dalam hitungan detik surat kata-kata belleetjes itu sudah berpindah tangan pada kurir sang pahlawan. Sementara sang pahlawan, Soetomo kembali melaju ke front. Deru cinta pada Sulistina, petugas PMI yang tak lain adalah tunangannya telah memicu Bung Tomo muda tak berfikir lama untuk kembali berperang mempertahankan kemerdekaan negerinya.

“Nanti kalau perang sudah usai. Dan kita akan membuat mahligai...” (Bung Tomo, 1946)

Manusiawi bukan? Gadis PMI yang sederhana dan suka membaca itu telah memiliki ruang tersendiri di hati Bung Tomo. Melihatnya berpeluh di antara puluhan korban terluka membuat Bung Tomo muda saat itu tidak lagi hanya memiliki satu cita-cita, Indonesia merdeka, tapi juga...menikah.

Tentu kita sepakat, pahlawan juga manusia. Mereka bukan miniatur malaikat yang turun ke dunia hanya untuk satu instruksi dari tuhannya. Keji jika kita menyamakan pahlawan dengan Jibril yang habis masa tugasnya setelah habis wahyu Allah tersampaikan pada Rasul-Nya. Mereka bukan Isrofil yang seumur hidup hanya punya satu job des, meniup sangkakala, lalu menjadi makhluk terakhir yang mati. Tak ada hati, tak ada mimpi, apalagi alibi. Tapi tidak demikian dengan manusia, pun pahlawan. Mereka-pahlawan-punya nafsu.

***

Kawan, jika boleh aku berbangga. Lebih kurang tiga tahun ini, duniaku di penuhi para pahlawan. Tak lagi mereka memakai sepatu laras seperti Bung Tomo apalagi berselendang pedang seperti Tjut Nyak Dien. Tak perlu mereka berjaga di front, apalagi gerilya menaiki tebing menyisir belantara hingga terjebak ranjau atau meringis kesakitan ketika timah panas Belanda merobek kulit legamnya. Wajah tirusnya meringsut ketika ajal menjemput.

Pahlawan di sekelilingku memiliki wajah manis-manis, lembut dalam balutan kerudung jingga yang rapat. Selalu kulihat teduh, ketika senyum mereka ramah pada bocah-bocah cilik yang berebut mencium tangan mereka di pagi hari yang cerah. Meski satu dua melangkah tergopoh sambil melirik sebentar angka tujuh di jam tangan abu-abu.

Jika Sulistina, istri Bung Tomo, dan para pejuang selalu punya cara untuk menyembunyikan Sang Pahlawan, khususnya dari mata-mata Belanda yang resah dengan sepak terjang arek Suroboyo yang nekad itu. Kawan, jangan ragu. Tidak sulit bagimu menemui pahlawanku. Mereka selalu siap memberi informasi yang kau mau tentang buah hatimu. Bahkan mungkin sebelum kau terfikir tentang apa yang ingin kau tanyakan padanya. Karena di duniaku, buahatimu adalah buah hatiku, buah hati pahlawanku.

Tapi alangkah baiknya jika engkau tidak menemuinya di kala dia tengah berjuang. Bersabarlah seperti Sulistina yang menunggu Bung Tomo pulang dari front. Medan juangnya terlalu rumit untuk ditinggalkan. Tengoklah medan juangnya dari kaca jendela. Membuka selembar buku di hadapan lebih kurang duapuluhan anak adalah perjuangan manakala seorang anak menarik ujung kerudung, dua anak asyik berbincang, tiga anak berebut mobil-mobilan, empat anak sekuat tenaga menaiki meja berusaha meraih mainan di ujungnya....lalu brruuuk! Tangis pun membahana dan tiba-tiba dari sudut kelas, si pemalu mendekat lalu berbisik segan: “Aku ngompol...”.

Kali ini, Sulistina Soetomo, istri pahlawan, pun belum tentu sabar...

***

Kawan, belum sepekan ketika Allah memberiku kesempatan mendengar curahan hati para pahlawan dari negeri seberang. Di depan seorang pejabat yang diundang, mereka mengeluhkan: Kapan kami mendapat tunjangan? Kapan jabatan kami menjadi sepadan? Kapan pemerintah sungguh-sungguh memberi kehormatan? Bilakah masa tua kami datang, masihkan kami dihargai sebagai pahlawan?

Dengan berdehem sebentar, sang pejabat utusan pemerintahan memberi jawaban elegan: “Tunjangan sertifikasi untuk guru PAUD sudah akan direalisasikan, dengan catatan: begini ibu-ibu...ibu-ibu harus memiliki ijazah S1 PAUD, S1 yang bukan PAUD tidak diakui (S1 PAUD sendiri baru dibuka tahun ini di Gresik, tidak jauh berbeda di kota-kota lain), ibu-ibu harus mengajar minimal 9 tahun (bukan tidak mungkin saat atau setelah tahun itu kebijakan pemerintah telah berubah, seperti kami hafal pada kebijakan-kebijakan sebelumnya), ibu-ibu harus bla-bla-bla...”

Ugh...kawan, wajah teduh para pahlawanku terbayang. Bagaimana mungkin itu semua terrealisasikan. Sungguh sebuah kebijakan yang penuh pertimbangan matang dan keyakinan yang penuh bau busuk hegomoni kekuasaan: amat sangat tipis sekali kemungkinan pahlawanku mendapat penghargaan. Sebuah kebijakan penuh kelicikan.

***

Kawan, tidak kurang dari lima surat yang kuterima dari seorang muridku yang cantik, lincah dan cekatan. Semua isinya sama, membumbungku ke awan: “ustadzah efa, ada dan tiada dirimu akan selalu ada di hatiku”. Gadis kecil nekad yang sempat membuat mataku berluberan air mata karena lelah mencarinya, tanpa sepengetahuan kami dia pulang berjalan menyusuri jalan licin dengan tebing gunung kapur di kanan-kirinya. Tidak kurang dari sepuluh kilometer menuju rumahnya.

Gadis kecil yang sempat membuatku menjerit tegang karena berusaha menuruni genteng lantai dua sekolah hanya untuk menggendong seekor kucing. Tak kupedulikan dari mana dia mendapat kata-kata itu. Tulisan tangannya yang mulai rapi ditulis di kertas tanpa garis dengan spidol gambarnya. Semua suratnya tersimpan rapi dalam arsipku. Pun di dalam hatiku.

Gadis kecilku yang lain tak pernah lelah menggambar. Meski belum pandai menulis, seuntai kalimat dalam kertas belletjes menggetarkan hatiku di pagi itu: “Ustadza Efa, aku menyukaimu” plus gambar gadis berjilbab dengan stiker kerlip di bajunya bertulis “EVA”. Sambil menunjukkan gigi berlubangnya, gadis kecilku ini meletakkan surat di mejaku lalu buru-buru lari dengan mata berbinar-binar sebelum sempat menjawab pertanyaanku.

Kawan, bocah lain dalam dunia heroikku pernah membuatku begitu resah karena isaknya yang tertahan hingga membuat wajah bulat putihnya memerah, rambut pekatnya berdiri, mata beningnya kuyu, dan ... mulai muntah. Sebuah nasihat dengan nada cukup keras dari seorang temannya telah membuat hati lembutnya tergores.

Segera kuajak ia meninggalkan kelas kami. Berlabuh sejenak di ujung koridor lantai dua sekolah kami. “Coba lihat semut-semut ini..., ketika mereka berjalan cepat lalu bertemu kawan dari arah yang berlawanan, mereka tak lupa menyapa, berbicara, dan mungkin juga bercerita...” kami terdiam sejenak. “Mereka berkawan, mungkin saja ada kata yang tak menyenangkan, tapi mereka selalu senang memaafkan.”
***

Kawan di pagi hari di dunia heroikku, aku sangat berharap tidak melewatkan menyambut murid-muridku. Membungkukkan punggung demi menyambut uluran tangan mungil mereka lalu mendapat doa gratis dari bibir mungil tanpa dosa:

“Assalamualaikum”
ucap mereka

“Waalaikumussalam warakhmatullahi wabarakatuh” dan jika sempat kuhadiahkan ciuman di pipi lembut mereka sambil bibirku lirih berkata “Terima kasih atas doamu buat ustadzah, nak”.
Kawan, jika boleh kuharap dari sepenggal kisah pendekku menjadi pahlawan, kuingin sebesar-besar nafsu pahlawanku adalah mendapat tunjangan dari murid-muridku tersayang. Jika dewasa masih memperkenankan mereka untuk bersentuhan dengan pena, kuingin sebuah surat dari mereka bertuliskan-seperti surat Sulistina pada almarhum Bung Tomo :
“You are a hero,
a patriot
a great lover”

__________________________________________________
Penulis : Musrifah (Pendidik di Al Ummah Gresik)
Tulisan ini dipersembahkan untuk anak-anak Al Ummah dan juga diikutkan dalam lomba menulis IBF 2011 yang disponsori oleh haimamedia.us, melalui blog muslimahberbagi
__________________________________________________

Keterangan:
Belleetjes : bahasa Belanda utk robekan kertas bekas yg dijadikan surat
Front : garis terdepan medang perang
Read More - Nafsu Pahlawan

Rabu, 26 Oktober 2011 | 13.00 | 0 Comments

Melatih Anak Mendirikan Sholat


Melihat anak sholat tentu menjadi harapan semua keluarga muslim. Cukup banyak cara dilakukan agar anak berlatih sholat sedari dini. Kalau sekedar mencontohkan sholat dan memotivasi anak untuk meniru-niru, bisa dilakukan sedini mungkin. Tetapi untuk mengharap agar anak usia dini mulai bisa berlatih dengan rutin tentu perlu persiapan tersendiri.

Kalaupun mungkin beberapa anak di bawah tujuh tahun sudah mulai bisa sholat, itu karena keinginan mereka untuk meniru-niru yang sangat kuat dan bukan didasarkan atas pengertian. Karena didasarkan bukan atas pengertian maka dalam waktu tidak begitu lama kegiatan sholat akan menjadi membosankan bagi mereka.

Menurut Piaget, ramah kognitif anak usia dini masih dalam tahap operasional simbolik menuju operasional konkrit. Dalam arti riil, sholat adalah serangkaian ibadah yang tidak mudah dipahami oleh anak, kenapa harus dilakukan? Mengapa ia perlu berlatih agar dapat sholat dengan benar?

Gunakan Bahasa Riil
Kepatuhan seorang muslim dalam mendirikan sholat untuk beribadah dan mendekatkan diri pada Rabbnya perlu dipahamkan pada diri anak. Tentu saja dengan bahasa anak. Orang dewasa bisa menyampaikan bahwa seorang muslim perlu berhenti sejenak dari urusan dunia (main, makan, belajar dst) untuk mendekatkan diri pada Allah. Dengan sholat, kita lebih leluasa berdoa, terutama agar Allah memudahkan urusan kita dan menghindarkan kita berbuat salah.

Jika kening anak masih berkerut dengan penjelasan tersebut di atas, orangtua bisa menambahkan bahasa percontohan yang lebih konkrit, misalnya : “Di pagi hari kita sholat shubuh agar pagi hingga siang ini Allah memudahkan papa dalam bekerja dan Allah memudahkan adik belajar di sekolah”

Pengkondisian Pembiasaan
Dalam Tarbiyatul Aulad, Abdullah Nasikh Ulwan menyebutkan salah satu metode pendidikan anak adalah lewat pembiasaan. Jika ingin anak terbiasa sholat, pilihlah sekolah yang menjadikan sholat sebagai aktivitas sehari-hari.

Di beberapa sekolah Islam Terpadu, anak usia tiga tahun sudah dapat dilatih sholat dua rakaat berjamaah. Bagi sekolah yang fullday dan terprogram sehari penuh pasti ada kesempatan untuk membiasakan sholat berjamaah bersama teman-temannya dengan gembira.

Tetapi ini belum cukup untuk memotivasi anak agar mau melaksanakan sholat di rumah. Harus dengan upaya pembiasaan. Orangtua dapat mengajak anak sholat berjamaah di rumah. Akan lebih menyenangkan jika anak, khususnya anak laki-laki diajak sholat berjamaah di masjid sekitar rumah.

Mencarikan teman bagi anak untuk sholat bejamaah dapat menjadikan sholat sebagai pengalaman yang seru dan di tunggu-tunggu anak.

Sabar dan Sabar
Perintah untuk bersabar ternyata termasuk resep khusus dari Allah dalam pembiasaan sholat. ”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengajarkannya” (QS.Thahaa 132).

Menunda waktu sholat, menolak sholat, melakukan gerakan-gerakan di luar sholat, mengganggu orang sholat dan sebagainya adalah hal yang wajar dilakukan anak usia dini saat berlatih sholat. Untuk memperbaiki kesalahan tersebut membutuhkan kesabaran disepanjang rentang waktu tersebut. Motivasi dengan bahasa positif dan contoh konkrit dapat terus dilakukan.

Ciptakan Kesan Mendalam Di Hati Anak
Hal yang terpenting dalam pembiasaan sholat adalah membekaskan suasana hati yang indah ke dalam benak anak terhadap syariah sholat. Ketika sholat berjamaah, gunakan surat-surat pendek yang sudah atau sedang dihafal anak, sehingga anak terbangun rasa percaya dirinya. Seusai sholat, orangtua dapat mengajak anak berdoa, meminta bersama keinginan mereka secara verbal pada Allah. Cerita-cerita tentang sholat di jaman Rasulullah dan sahabat juga bisa menambah kesan mendalam dan semangat anak.

Doa dan Hadiah
Apresiasi berupa pujian dan hadiah-hadiah kecil sangat memotivasi anak, membangun rasa dalam dirinya bahwa ia dihargai, usahanya dinilai, doa dan sholatnya bermakna bagi orangtua. Hadiah-hadiah kecil dapat berupa ciuman, pelukan, sanjungan, atau barang-barang buatan orangtua atau yang sedang diinginkan dan dibutuhkan anak.

Yang tak kalah penting adalah orang tua mendoakan mereka, dimohonkan kepada Allah SWT agar anak-anak kita kelak tumbuh menjadi pejuang-pejuang yang ahli ibadah dan sadar kepada Allah SWT. Amin.[]

Penulis :
Eka Wahyuningsih, S.Pd
Pendidik pada TKIT Al Ummah
Read More - Melatih Anak Mendirikan Sholat

Sabtu, 16 Juli 2011 | 10.00 | 0 Comments

Membacakan Buku untuk Anak


Salah satu cara agar anak usia dini tertarik membaca adalah dengan menjadikan kegiatan membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan. Bagaimana jika mereka belum bisa membaca? Pengalaman keaksaraan yang kaya yang sengaja dihadirkan oleh orangtua dan guru merupakan pintu pertama anak tertarik membaca.

Selain sedari dini memperkenalkan anak dengan buku, membacakan buku untuk anak merupakan peluang anak belajar membaca. Terlebih jika orangtua dan guru memiliki kemampuan untuk tidak sekedar membaca tapi membuat anak belajar membaca sambil mengalirkan nilai-nilai positif dalam bacaan mereka.

Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan orangtua/ guru sebelum membacakan buku untuk anak:

1. Siapkan mental
Temuilah anak dalam keadaan siap. Pastikan niat anda ingin membaca buku atau bercerita hanya untuk mengalirkan nilai positif pada anak. Orang yang sedang galau, sakit, gelisah, takut, khawatir; sebaiknya menenangkan dirinya dulu sebelum menemui anak. Anak usia dini sangat akurat dalam memberikan penilaian. Jangan pernah berfikir memberikan pesan positif pada anak jika bahkan sebelum bicara, bahasa wajah dan tubuh anda sudah memberi pesan bahwa anda sedang memikirkan yang lain, bukan anak yang ada dihadapan anda. Pesan di wajah dan tubuh anda (nonverbal) lebih mudah dimengerti anda daripada pesan yang anda ucapkan (verbal).

2. Memilih buku
Saat ini semakin banyak terdapat buku anak-anak di toko buku. Namun banyak buku yang tercantum untuk balita tapi belum layak untuk balita. Diantaranya karena huruf yang tercetak masih terlalu kecil, menggunakan model huruf yang terlalu variatif di saat anak balita masih belajar mengenal bentuk masing-masing huruf. Untuk buku yang semacam ini dimana anak balita belum bisa membacanya, sebaiknya orang dewasa membacakan untuk anak.

3. Memilih tema
Pilihlah buku dengan tema yang dekat dengan keseharian anak atau menceritakan pengalaman yang sekiranya dialami anak seusianya, tentang benda-benda yang sering ia temui, tentang kebiasaan-kebiasaan anak.

4. Pengalaman nyata
Sebaiknya, hidupkan isi buku dengan mengajak anak mengalami apa yang terjadi atau pesan yang terdapat dalam buku. Misalnya buku yang bercerita tentang semut yang suka bergotong royong, kita dapat mengajak anak melihat parade semut yang berjalan saling salam, menyapa, bergotong royong membawa makanan. Lebih asyik jika melihat menggunakan kaca pembesar.

5. Bahasa Anak
Tidak semua buku anak memiliki bahasa yang dipahami anak. Pembaca buku harus dapat menerjemahkan bahasa yang asing bagi anak menjadi bahasa yang mudah ia pahami. Dapat dengan sebuah perumpamaan, menjelaskan dengan bahasa keseharian anak dan sebagainya. Misalnya buku tentang keutamaan sholat jamaah, kita dapat memberi perumpamaan tentang sebuah permainan yang mensyaratkan adanya pemimpin dimana para pemain harus patuh pada pemimpin agar tim tersebut memenangkan permainan.

6. Visualisasi
Anak usia dini masih berada dalam tahap operasional simbolik, mereka membutuhkan simbol-simbol visual untuk memudahkan kerja otak mereka dalam menangkap pesan atau informasi. Namun orang dewasa harus hati-hati, simbol yang terlalu variatif dan tidak fokus membuat pengetahuan yang didapat anak tidak utuh dan kabur. Hal ini berlaku bukan hanya pada buku. Kelas yang terlalu ramai dengan ornamen lucu, dan penuh warna justru membuat anak tidak bisa belajar banyak.

7. Libatkan anak
Membacakan buku atau bercerita pada anak bukan berarti anak di posisi yang pasif. Ingat bahwa pembaca sedang berusaha mengalirkan pengetahuan pada anak, semakin anak dilibatkan semakin dirinya merasa dihargai dan semakin besar pintu memorinya terbuka untuk menampung pengetahuan. Namun keterlibatan anak juga perlu aturan yang jelas. Anak usia 4-6 tahun sudah bisa diberi aturan. Misalnya: boleh bertanya dengan mengangkat tangan lebih dulu, jika sudah dipersilahkan guru, baru bertanya. Guru juga harus memberi anak kesempatan menggali pengalaman dan pengetahuan anak dengan cara bertanya, meminta pendapat dan ide anak.

8. Hidupkan situasi
Membaca atau bercerita memang bukan mendongeng. Tapi tidak ada salahnya jika intonasi suara pembaca lebih hidup dengan menambahkan ekspresi tentang bagaimana sedih, senang, takut, terkejut dll.

9. Baca dengan benar
Bacalah perlahan dengan nada yang teratur. Usahakan setiap huruf yang keluar dari mulut pembaca adalah berasal dari asal suara yang tepat. Misalnya jangan sampai membaca “a” terdengar seperti “ae” atau membaca “d” terdengar seperti “t”. Pengucapan aksara yang terdengar oleh anak berpotensi besar menjadi pembaca yang benar.

10. Recalling
Selalu beri kesempatan anak untuk bercerita dengan bahasanya sendiri setelah anda selesai membaca atau bercerita. Amati kemampuan otaknya menyerap dan menggali informasi yang telah anda berikan. Ini juga dapat menjadi ukuran kesuksesan anda membaca atau bercerita.


Oleh : Musrifah, M.Med Kom
Koordinator Kurikulum KBIT-TKIT Al Ummah
efa_fillah_machfud@yahoo.co.id
Read More - Membacakan Buku untuk Anak

Rabu, 02 Februari 2011 | 16.00 | 0 Comments

Maka, Bermainlah Anak Indonesia...


Fenomena dimana guru harus berpacu dengan tuntutan orangtua adalah pemandangan memprihatinkan di dunia dimana pendidikan telah menjadi komoditas. Pendidikan yang seharusnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia lebih direkomendasikan sebagai upaya memenuhi kebutuhan orangtua yang serba instan, dan pragmatis. Ironinya, orangtua seringkali lupa bahwa yang menjadi korban adalah anak-anak mereka sendiri, tidak terkecuali anak usia dini.

Berita di Kompas Rabu, 10-3-2010 adalah bukan temuan baru, dimana guru TK terpaksa mengajarkan baca tulis karena minat dan tuntutan orangtua. Seiring dengan kompetisi bimbingan belajar untuk memacu percepatan peningkatan nilai siswa SD hingga SMU, banyak anak-anak TK mengikuti les privat serupa lembaga bimbingan yang mentargetkan mereka sudah bisa menulis dan membaca dengan baik.

Pendidikan Tepat Sesuai Tahap Perkembangan Anak
Jauh sebelum muncul ide pelembagaan pendidikan kanak-kanak, Jean Piaget mengingatkan, anak-anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Guru, tentu saja, dapat menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, ia harus membangun pengertian itu sendiri, ia harus menemukan sendiri (1972).

Psikolog yang banyak menghabiskan waktunya untuk meneliti anak usia dini itu menegaskan bahwa anak usia dini belajar melalui permainan mereka. Pengalaman bermain yang menyenangkan dengan bahan, benda, anak lain dan perhatian orang dewasa adalah faktor utama anak-anak berkembang secara fisik, emosi, kognisi dan sosial.

Karenanya, pendidikan anak harus selalu bepedoman pada tahap perkembangan anak. Upaya percepatan intelektual anak dengan memaksa mereka mengurangi waktu bermainnya dan menggantinya dengan pelajaran baca tulis tidak akan efektif bagi anak. Namun demikian, guru bisa menjadi fasilitator bagi anak dengan menyediakan pengalaman main yang mendukung perkembangan keaksaraannya.

Anak usia dini belajar melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungan mereka. Anak akan dengan mudah mengingat huruf "A" yang dicetaknya dengan tanah liat daripada huruf "A" yang dicontohkan guru di papan tulis. Anak dengan sendirinya menemukan kata "Jingga" ketika ia mencampur air berwarna hijau dan kuning daripada kosakata warna yang diminta gurunya untuk dihafalkan. Sehingga upaya membangun konsep berfikir anak tanpa mengabaikan tahap perkembangannya seharusnya lebih diperhatikan pendidik anak usia dini daripada memaksa anak dengan upaya persuasif yang justru jauh dari edukatif.

Dalam tahapan pra operasionalnya, anak usia dini lebih memerlukan permainan yang memenuhi kebutuhan sensimotor dan pengetahuan simbolik daripada pengetahuan konkrit. Anak yang memiliki banyak pengalaman dalam mengamati bentuk dan warna menjadi lebih mudah ketika dikenalkan huruf dan simbol sebagai ketrampilan awal membaca. Begitu juga bagi anak yang tidak terbiasa menggerakkan tangannya untuk meremas, meronce, dan ketrampilan motorik halus lainnya, akan kesulitan ketika diminta memegang pensil untuk menulis. Pemenuhan yang tepat dan optimal terhadap kebutuhan sensorimotor dan pengetahuan simbolik sangat membantu anak untuk mengembangkan kemampuan intelektual yang diperlukan di sekolah dasarnya kelak.

Kerjasama Orangtua dan Pemerintah
Penyelenggaraan pendidikan yang tepat bagi anak usia dini tidak akan efektif tanpa kerjasama dari orangtua. Karenanya upaya membangun pengertian bersama melalui pertemuan berkala untuk mendiskusikan konsep tahap perkembangan anak adalah sebuah keharusan bagi mereka yang peduli terhadap pendidikan anak usai dini.

Pola pendidikan konservatif yang diliputi nuansa tekanan memaksa otak anak bekerja keras yang pada akhirnya membuat guru serta orangtua tersenyum menang melihat anak membaca buku atau menulis di kertas bergaris. Namun, kematangan emosionalnya tetap menuntut kepuasan yang tidak terpenuhi di usia dininya. Hal ini yang seringkali membuat anak tidak kooperatif dalam pergaulan sosialnya bahkan berpeluang besar membuat anak memilih sikap keras dan anarkis saat memaksa orang dewasa memenuhi kebutuhannya. Tepat kata James Baldwin yang dikutip Miranda Risang Ayu, bahwa "Children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them" (Ayu, 1998).

Namun, pola pendidikan yang sudah tepat di sekolah maupun di rumah tidak akan signifikan ketika guru dan orangtua tetap berhadapan dengan situasi sulit ketika SD menetapkan tes baca tulis bagi calon siswa kelas 1 SD. Dalam hal ini perlu tidak sekedar statement dari pemerintah bahwa hendaknya SD tidak menerapkan tes baca tulis bagi siswa TK. Perlu ada penyamaan persepsi terhadap tahap perkembangan anak dari segala tingkat pendidikan. Hal ini selayaknya menjadi kewajiban pemerintah sebagai pusat kebijakan. Disamping itu, fungsi supervisi berkala berpedoman pada tahap perkembangan anak harus benar-benar dioptimalkan. Sehingga kedepannya tidak ada lagi misalnya, wakil rakyat yang duduk di atas meja atau membanting buku atau mempermainkan microphone saat sidang. Bisa jadi mereka melakukan itu karena kebutuhan sensorimotor yang belum terpenuhi di usia dininya. Maka, jangan cegah anak usia dini untuk bermain![]


Penulis : Musrifah, S.Kom
Ustadzah TKIT Al Ummah
Read More - Maka, Bermainlah Anak Indonesia...

Senin, 22 November 2010 | 08.00 | 5 Comments

Memupuk Mimpi Buah Hati


Merasa menjadi paling realistis, kita kerap membunuh impian anak-anak. Merasa telah banyak makan asam garam kehidupan, kita sering membonsai cita-cita buah hati kita. “Itu mustahil, Nak”, “Cita-citamu itu terlalu tinggi”, “Impianmu itu takkan pernah tercapai”, dan kalimat senada, mungkin pernah kita ucapkan.

Kita mungkin lupa, bahwa komentar-komentar negatif kita tentang cita-cita anak mencipta bekas yang sulit diobati. Kita mungkin tidak sadar, kata-kata meremehkan yang keluar dari lisan kita telah membuat jutaan sel otaknya mati. Jadilah anak tumbuh dalam suasana pesimis. Merasa rendah diri. Tidak pantas melakukan pekerjaan-pekerjaan besar.

Barangkali kita juga tidak ingat, bahwa impian-impian besar anak-anak kita bisa menjadi nyata ketika kita memupuk mimpi-mimpi itu. Mungkin bukan semuanya, tapi salah satunya.

Sewaktu kecil, Vettel mengidolakan “Trio Michael”; Michael Jordan, Michael Jackson, dan Michael Schumacher. Ia ingin menjadi ketiganya; pebasket dunia, penyanyi legendaris, dan pembalap hebat. Ayah Vettel, Norbert, dan ibunya, Heike, tidak ingin mematikan mimpi itu dengan menertawakannya. Mereka memberi ruang agar mimpi Vettel tumbuh dalam jiwanya; menjadi cita-cita, menggerakkan langkah demi langkah untuk mengubahnya menjadi nyata. Meskipun mereka tahu postur Vettel tidak mendukung untuk basket, suaranya juga tidak cukup menjadi modal sebagai penyanyi. Belakangan, Vettel juga menyadarinya. Dari sana impiannya lebih fokus: menjadi pembalap nomor satu!

Bukan sekedar membiarkan impian anaknya tidak mati, Norbert memupuk impian itu agar tumbuh besar. Diantara hal yang paling diingat Vettel kelak adalah hadiah gokar Bambini 60 cc yang diterimanya dari sang ayah saat usianya baru tiga tahun. Vettel bukan hanya mendapat ruang. Ia mendapat dukungan. Ia memperoleh motivasi. Keyakinannya menancap kuat. “Aku pasti bisa!”

Impian yang diucapkan anak kecil lebih dari dua dasawarsa sebelumnya itu menjadi kenyataan seminggu lalu. 14 November 2010, tepat pada usia 23 tahun 134 hari, Sebastian Vettel menjadi juara dunia F1 termuda sepanjang sejarah setelah memenangi balapan di Abu Dhabi. Kini ia juga dijuluki sebagai “Baby Schumi” atau “Michael Schumacher Baru”. Subhaanallah, betapa persis dengan impiannya.

Dunia Islam dewasa ini juga memiliki tokoh besar yang berangkat dari impian di masa kecil. Namanya Ahmad Zewail. Seorang doktor yang menjadi salah satu ilmuwan besar dunia. Pada tahun 1999, DR. Ahmad Zewail meraih penghargaan Nobel bidang kimia. Memaparkan prestasinya, Saudi Aramco World menulis executive summary begini: “Born in the Nile Delta, Ahmed Zewail became the first scientist to record molecules while they were undergoing chemical reactions that take place in a few millions of a billionth of a second. This established the field of femthochemistry and earned him the 1999 Nobel Prize in Chemistry. In November, he was appointed one of the first three us Science Envoys to Middle East.”

Satu hal yang perlu dicatat, sang ibu menumbuhkan dan memupuk impian Ahmad Zewail sejak dini. Yang paling berkesan, sejak masih anak-anak pintu kamar Zewail diberi papan bertuliskan: Kamar DR. Ahmad Zewail. Subhaanallah, betapa impian itu kini menjadi nyata.

Anak-anak kita mungkin memiliki impian yang setara dengan Sebastian Vettel atau Ahmad Zewail. Atau bahkan melebihi itu semua. Berbahagialah. Itu hal yang baik. Semestinya ada. Sangat tidak tepat jika kita justru mewariskan kerdil obsesi yang menjangkiti banyak orang dewasa. Bukankah manusia hanya akan mengusahakan hal-hal yang dianggap mungkin oleh pikirannya? Maka impian tinggi buah hati kita akan meninggikan kualitasnya, insya Allah. “Sesungguhnya,” kata M. Lili Nur Aulia dalam Mimpi-mimpi Besar, “mimpi dan obsesi seseorang yang besar, indikator ia akan menjadi orang yang besar.”

Selama impian itu tidak salah dalam standar keimanan, kita hanya perlu memupuknya. Memotivasinya, mendukungnya, dan memberikan kesempatan kepada anak untuk mencoba. “Ketika kita memberi anak kesempatan untuk mencoba,” M. Fauzil Adhim meyakinkan dalam Saat Berharga untuk Anak Kita, “hasilnya sangat menakjubkan.” Wallaahu a’lam bish shawab. [Muchlisin, Sekretaris Yayasan Al Ummah]
Read More - Memupuk Mimpi Buah Hati

Jumat, 19 November 2010 | 10.00 | 2 Comments

Rahasia Parenting Nabi Ibrahim


Remaja itu masih berumur belasan tahun. Namun kepribadiannya telah matang. Dewasa. Jauh melampaui usia biologisnya.

Kedewasaan karakter itu tercermin dari logika keimanannya yang sempurna. Maka, begitu tahu bahwa penyembelihan dirinya adalah perintah Allah, ia menjawab dengan tenang: "Hai ayahku... kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar" (QS. Ash-Shaaffaat : 102)

Jika hari ini banyak orang tua yang mengeluhkan anaknya tidak berbakti pada mereka, Ibrahim bukan hanya mendapati Ismail berbakti. Lebih dari itu Ismail pada usia remaja telah membaktikan dirinya tanpa reserve kepada Dzat yang memerintahkan berbakti kepada orang tua. Meskipun nyawa sebagai taruhannya.

Kita mungkin beralasan, bahwa Ibrahim dan Ismail adalah nabi. Tak bisa disamakan dengan manusia biasa. Memang itu benar adanya. Akan tetapi, bukankah salah satu gelar yang dianugerahkan Allah kepada Ibrahim adalah uswatun hasanah? Maka, dalam dunia parenting pun Ibrahim mencatatkan keteladanan bagi umat manusia sesudahnya. Lalu, apa rahasia parenting nabi Ibrahim?

Menjadi Orang Tua yang Baik

Sebelum dianugerahi Ismail, Ibrahim telah menyiapkan diri menjadi orang tua yang baik. Perjuangan melawan penyembahan berhala di masa muda, hingga keteguhannya berdakwah di masa tua mencerminkan keshalihan yang luar biasa. Keimanan yang sempurna juga tampak dari keberaniannya menghadapi bahaya dan kesegeraannya menjalankan perintah Allah tanpa menunda-nunda.

Istrinya yang bernama Hajar juga menyiapkan diri menjadi ibu yang baik. Dengarlah kalimatnya ketika ia bersama Ismail –yang masih bayi- ditingalkan Ibrahim di pegunungan Faran yang kini kita kenal dengan Makkah Al-Mukarramah: “Apakah Allah yang memerintahkan hal ini?” Mendengar jawaban iya dari sang suami, ia menzahirkan keimanan yang kokoh: “Kalau begitu, Allah takkan menyia-nyiakan kami.”

Pendidikan anak yang sukses bukan dimulai setelah anak itu lahir. Apalagi menunggunya sampai usia masuk sekolah. Dalam Islam, pendidikan anak bahkan dimulai sebelum anak itu berada di dalam rahim sang ibu. Karenanya, Rasulullah memerintahkan memilih pasangan hidup karena pertimbangan agama.

"Dengan demikian," kata Abdullah Nasih Ulwan dalam Tarbiyatul Aulad, "pendidikan anak dalam Islam harus dimulai sejak dini. Yakni dengan pernikahan ideal yang berlandaskan prinsip-prinsip yang secara tetap mempunyai pengaruh terhadap pendidikan dan pembinaan generasi."

Lalu bagaimana jika keluarga itu telah terbentuk dengan permulaan yang tidak ideal? Alih-alih membubarkannya, kita hanya perlu memperbaikinya. Masih ada waktu. Jika kita menginginkan anak-anak yang baik, jadikanlah diri kita terlebih dahulu sebagai (calon) orang tua yang baik. Jika kita merindukan anak-anak yang berbakti, jadikanlah diri kita menjadi orang tua yang pantas dihormati dan mendapatkan bakti.

Kekuatan Doa
Jauh sebelum Ismail lahir, Ibrahim selalu berdoa kepada Allah; bukan hanya bermunajat agar dikaruniai anak karena kini ia telah berusia tua, tetapi bermunajat agar dikarunia anak yang shalih. "Ya Rabbi...," demikian doa Ibrahim sebagaimana dicantumkan dalam QS. Ash-Shaaffaat ayat 100, "anugerahkanlah kepadaku (anak) yang termasuk orang-orang yang shalih."

"Doa adalah senjata mukmin," sabda Rasulullah SAW ribuan tahun kemudian. Maka untuk mendapatkan anak yang shalih, senjata itu harus dipakai setiap orang tua muslim. Menjadikan anak menjadi shalih berarti mengubah hati. Sedangkan penguasa hati adalah Allah. Kalau bukan Allah yang mengubahnya, kepada siapa lagi kita menyerahkan urusan yang luar biasa besar ini?

"Banyak orang tua yang berhasil mendidik anaknya bukan karena kepandaiannya mendidik anak," tutur M. Fauzil Adhim dalam Saat Berharga untuk Anak Kita, "tetapi karena doa-doa mereka yang tulus. Banyak orang tua yang caranya mendidik salah jika ditinjau dari sudut pandang psikologi, tetapi anak-anaknya tumbuh menjadi penyejuk mata yang membawa kebaikan dikarenakan amat besarnya pengharapan orang tua."

Bermusyawarah
Inilah tradisi parenting Nabi Ibrahim. Ia mengajak anaknya bermusyawarah, meskipun dalam persoalan kewajiban yang diketahuinya perintah Tuhan. Kita pun kemudian terkenang dengan kalimat Ibrahim yang dikabarkan Al-Qur'an dalam bahasa yang menyentuh: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" (QS. Ash-Shaaffaat : 102).

"Ibrahim tidak mengambil anaknya dengan paksa untuk menjadikan isyarat Rabbnya itu hingga cepat selesai," tulis Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur'an ketika menafsirkan ayat ini, "Tapi... menyampaikan hal itu kepada anaknya seperti menyampaikan sesuatu hal yang biasa."

Anak yang biasa dimintai pendapatnya, ia akan merasa dirinya penting dan berharga. Sebuah emosi positif yang sangat mendukung perkembangan kecerdasannya. Anak yang diajak bermusyawarah dan didengarkan apa keinginannya, -kalaupun kurang tepat kemudian diarahkan- akan tumbuh kepercayaan dirinya. Ia menjadi subyek, bukan obyek. Dan itulah yang dilakukan Ibrahim pada Ismail.

Alhamdulillah, TKIT dan KBIT Al Ummah memakai BCCT (Beyond Centers and Circle Time) atau metode sentra sebagai kurikulumnya. Sejalan dengan tradisi parenting Nabi Ibrahim, metode sentra diharuskan menghindari 3M: menyuruh, melarang, dan marah. Berdasarkan penelitian, otak pusat berpikir manusia tidak akan berfungsi jika emosi dalam keadaan negatif. Jika anak dalam kondisi tertekan, kecewa, sedih atau marah, maka ia tidak akan optimal belajar. Bahkan tidak bisa sama sekali. Dengan memposisikan anak sebagai subyek, segala potensi kecerdasan bisa dibangun dan anak tumbuh menjadi percaya diri dan bahagia. Wallaahu a'lam bish shawab. [Muchlisin, Sekretaris Yayasan Al Ummah]
Read More - Rahasia Parenting Nabi Ibrahim

Kamis, 28 Oktober 2010 | 13.00 | 1 Comments

Al Ummah On The Move


Ada yang berbeda dari tampilan facebook dan web Al Ummah hari ini. Apa itu? Ya, logo. Logo yang semula lingkaran biru tua bertuliskan "Al Ummah" dalam khat Arab kini telah berubah; lebih cerah, lebih indah.

Al Ummah On The Move! Bukan hanya logo yang berubah. Kini Al Ummah lebih fokus pada pendidikan dengan memandirikan lembaga amil zakat (LAZ) yang semula berada di bawah naungan yayasan Al Ummah. Perubahan logo ini juga menandai peningkatan kualitas pendidikan, manajemen, hingga sarana dan prasarana.

Kurikulum BCCT (Beyond Centers and Circle Time) atau yang lebih dikenal dengan metode sentra telah diaplikasikan di KBIT Al Ummah sejak lima tahun yang lalu dan di TKIT Al Ummah sejak dua tahun yang lalu. Implementasi kurikulum yang dikembangkan oleh Pamela Phelps, Phd dari Florida Amerika Serikat itu telah cukup established di Al Ummah. Pada pelatihan kepala sekolah Islam Terpadu se-Jawa Timur, misalnya, Al Ummah dijadikan salah satu contoh/model untuk kurikulum KBIT dan TKIT di Jawa Timur.

Untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya penyempurnaan kurikulum Sentra, Al Ummah mengikutkan guru (baca: ustadzah) ke berbagai pelatihan. Terakhir, sebelum tulisan ini ditulis, Al Ummah mengirim guru (baca: ustadzah) dalam konferensi pendidikan anak usia dini yang diselenggarakan sekolah Al Falah Jakarta, pioner sekaligus ikon kurikulum sentra di Indonesia. Untuk mendukung efektifitas kurikulum sentra, Al Ummah juga telah menyelenggarakan simulasi sentra kepada orang tua murid. Sinergi kurikulum sentra di sekolah dan di rumah akan membawa hasil yang lebih baik bagi murid. Alhamdulillah, saat ini sebagian hasil itu bisa dirasakan: anak-anak belajar dengan ceria sesuai tahap perkembangannya, kreatif, dan mandiri. Jika sejumlah anak enggan pulang setelah jam belajar usai, itu hanyalah salah satu indikasi yang menunjukkan kebahagiaan mereka dalam belajar. Lebih jauh tentang kurikulum sentra, insya Allah akan kita bicarakan pada tulisan-tulisan berikutnya.

Meskipun bukan segalanya, sarana dan prasarana sangat berpengaruh pada kualitas pendidikan. Terlebih pada usia KB dan TK, anak-anak membutuhkan alat peraga edukatif (APE) yang tepat. Perkembangan sensorik dan psikomotorik yang pesat pada usia ini menuntut alat peraga berkualitas tersedia di sentra-sentra. Termasuk sarana bermain indoor maupun outdoor. Al Ummah cukup concern dengan peningkatan ini. Dan insya Allah, dengan dukungan dari semua orang tua murid dan berbagai pihak, Al Ummah berencana membangun kolam renang yang insya Allah siap dipakai pada tahun ajaran mendatang. Mohon doa dan dukungannya. [Muchlisin, S.Pd.I, Sekretaris Yayasan Al Ummah]
Read More - Al Ummah On The Move

Kamis, 12 Agustus 2010 | 08.00 | 2 Comments

Petunjuk Praktis Berpuasa Ramadhan


Agar puasa kita efektif dan Ramadhan termanfaatkan dengan baik, berikut ini delapan kiat yang perlu kita lakukan selama berpuasa Ramadhan:

1. Setelah masuk waktu sahur, menjelang waktu subuh, hendaklah segera sahur
2. Sesudah sahur dengan menjaga adab-adabnya, bersihkanlah mulut dengan sebersih-bersihnya dan nantikanlah waktu sahur dengan membaca Al-Qur’an atau perbincangan yang bermanfaat
3. Apabila terbit fajar, tahanlah diri dari makan, minum dan segala yang membatalkan puasa
4. Seusai shalat Subuh bacalah Al-Qur’an sesuai dengan kemampuan
5. Di siang hari hendaklah menjauhkan diri dari pekerjaan yang makruh dan sia-sia seperti terlalu banyak bicara
6. Usahakan agar bisa shalat fardu/wajib selalu dengan berjamaah
7. Sedapat mungkin tiap hari ada waktu sesudah shalat untuk membaca Al-Qur’an
8. Bersegeralah berbuka bila matahari benar-benar telah terbenam dengan sedikit makanan manis dan lezat. Sesudah itu tunaikan shalat Magrib baru menyempurnakan makan dengan mengikuti adab-adab berbuka.

[Sumber: Brosur Tarhib Ramadhan Al-Ummah, tulisan Ustadzah Arum Wardati]
Read More - Petunjuk Praktis Berpuasa Ramadhan

Kamis, 05 Agustus 2010 | 11.30 | 2 Comments

Mempersiapkan Anak di Bulan Ramadhan


Aku gembira, yang kutunggu tiba
Bulan yang suci, bulan ramadhan

Tiba saatnya aku berpuasa
Agar menjadi orang-orang yang taqwa

Meski lapar kutahan tak makan
karna aku puasa
Meski haus kutahan tak minum
karna aku puasa


Lagu di atas akan kita dengarkan lagi dari mulut-mulut indah ananda. Menjelang Ramadhan, lagu itu memang diajarkan di berbagai Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak, termasuk KBIT dan TKIT Al-Ummah.

Selain diajarkan lagu itu, untuk menyambut Ramadhan ananda juga mendapatkan berbagai inputan dari sekolah: dikenalkan tentang puasa, keutamaan bulan Ramadhan, dan sebagainya. Ada pula kegiatan tarhib Ramadhan. Untuk KBIT dan TKIT Al-Ummah, tarhib Ramadhan insya Allah dilaksanakan Sabtu, 7 Agustus 2010. Para ananda akan membagi souvenir dan brosur Ramadahan, sementara IOM akan mendukung dengan bazar menyambut Ramadhan.

Lalu bagaimana peran kita sebagai orangtua untuk menyiapkan anak menyambut Ramadhan 1431 H ini? Semakin banyak persiapan tentunya semakin baik bukan, Bunda? Sekolah mempersiapkan ananda dari sisi tertentu, sementara orangtua juga menyiapkan dari sisi yang lain.

Dengan persiapan yang baik, insya Allah kita turut menyiapkan generasi Islam yang tangguh. Bukankah Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa dengan berbagai keutamaan. Iya kan, Bunda? Apalagi realita sejarah mengatakan Ramadhan telah dipenuhi dengan banyak hal positif yang dicapai umat. Ada peningkatan iman dan taqwa di sana, ada peningkatan kuantitas dan kualitas ibadah, juga berbagai kemenangan yang diperoleh oleh Rasulullah dan para sahabatnya dalam jihad. Pun generasi sesudah mereka. Bahkan, bangsa kita mencapai kemerdekaannya juga pada bulan Ramadhan. Hampir sama dengan momentum Ramadhan 1431 H ini yang juga bertepatan dengan HUT kemerdekaan RI ke-65.

Ayah dan Bunda... berikut ini beberapa hal yang perlu kita lakukan untuk menyiapkan anak di bulan Ramadhan:

1. Menjelaskan kepada ananda bahwa tamu istimewa
Kita bisa menjelaskan tentang Ramadhan dengan gaya cerita kepada ananda. Bahwa ada tamu istimewa yang akan datang. Tamu itu bernama Ramadhan.

Ada banyak keutamaan bulan Ramadhan. Kita bisa mulai mengenalkannya. Misalnya hadits ini: "Jika bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, setan-setan dibelenggu" (HR. Thabrani)

Kita juga sampaikan bahwa di bulan Ramadhan semua pahala dilipatgandakan, dan tentu saja ananda akan disayang Allah jika selama Ramadhan memperbanyak kebikan.

2. Mengajak ananda membersihkan rumah dan menghiasnya menyambut Ramadhan
Karena ada tamu istimewa, sepantasnya kita membersihkan rumah dan menghiasnya agar kondusif menyambut bulan suci. Kita ajak ananda untuk membersihkan kamarnya, menghiasinya dengan tulisan "marhaban ya Ramadhan", menempelkan jadwal shalat/imsakiyah selama Ramadhan, ataupun poster doa-doa.

Biasanya anada akan sangat menyukai aktifitas ini. Kita pun bisa mengasah kreatifitasnya di sini. Dan lihatlah, subhaanallah...ayah dan bunda pasti takjub dengan kreatifitas mereka.

3. Melatih ananda agar tidak terburu-buru makan dan minum
Ananda yang masih balita, tentu saja belum wajib berpuasa. Melatihnya untuk berpuasa merupakan hal yang sangat baik. Tentu saja disesuaikan dengan kemampuan/usia ananda.

Cara yang bisa kita lakukan adalah melatih ananda supaya tidak buru-buru makan ketika terasa lapar atau langsung minum ketika terasa haus. Kita latih supaya mereka menahan beberapa saat lagi. Sesuai kemampuan mereka. Setiap tahun waktunya semakin lama, hingga nantianya ananda benar-benar siap berpuasa, sebelum ia baligh dan diwajibkan berpuasa.

4. Melatih berbagi sesuatu dengan orang lain
Menanamkan semangat berinfaq pada bulan mulia ini adalah hal yang tepat untuk dilakukan. Kita bisa memotivasi ananda bahwa Rasulullah idola kita merupakan orang yang sangat dermawan, bahkan lebih dermawan lagi ketika berada di bulan Ramadhan.

Jika ayah dan bunda memberikan buka bersama atau ta'jil di masjid, ajaklah ananda. Di samping itu kita latih ananda untuk berbagi. Bisa dengan teman-temannya atau tetangga, khususnya yang tergolong dhu'afa.

5. Melatih mereka bahagia ketika orang lain bahagia, begitupun sebaliknya
Menyambut Ramadhan, tentu ada kebahagiaan tersendiri bagi setiap muslim karena berbagai keutamaan Ramadhan itu. Kita pun bisa melatih ananda untuk memiliki rasa yang sama. Begitupun saat berbuka, setiap hari di bulan Ramadhan. Meski puasanya tidak penuh, ananda juga kita latih turut berbahagia bersama sesama.

Semoga lima kiat sederhana ini bisa membantu kita mempersiapkan anak di bulan Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan... Marhaban yaa syahrul mubarak.[]


Arifatus Sholihah
Kepala KBIT Al-Ummah
Jl. Tanjung Wira VI No.44 GKB, Gresik
Read More - Mempersiapkan Anak di Bulan Ramadhan

Senin, 19 Juli 2010 | 11.00 | 2 Comments

Bunda, Menyekolahkan Ananda saja Tidak Cukup


Bunda, sepekan sudah anak-anak kita masuk sekolah. Bagi yang baru masuk KB atau TK, satu pekan kemarin adalah hari istimewa. Sekaligus berat. Anak-anak kita bertemu dengan wajah-wajah baru. Teman-temannya yang baru. Ustadzah yang baru. Juga lingkungan yang baru.

Hanya karena karunia Allah-lah mereka bisa begitu cepat beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Bermain dengan ceria bersama teman-temannya. Dan mulai akrab dengan para ustadzah di sekolah. Subhaanallah... anak-anak polos tanpa dosa itu memang dikarunia kecerdasan yang luar biasa.

Menyekolahkan Saja tidak Cukup
Setelah berlalu satu pekan, banyak anak-anak kita yang sudah berani dan tidak mau lagi ditunggui. Bunda, kita pun kemudian menjadi bangga dan lega. Kita bersyukur karena telah menyekolahkan mereka. Memilih sekolah terbaik bagi ananda. Mempercayakan pendidikan mereka kepada para ustadzah.

Sebagian bunda mungkin berpikir bahwa tanggungjawab pendidikan teratasi. Kita telah memberi bekal yang tepat setelah sepekan menyekolahkan mereka. Lega. Bersyukur. Bebas dari tanggungjawab. Sebentar, sebentar. Bebas tanggung jawab? ini perlu diluruskan. Bukankah begitu, Bunda?!

Bunda, menyekolahkan saja tidak cukup. Memberi uang saku, menyuruh sopir mengantar dan menjemput mereka, itu belum cukup. Menyediakan fasilitas bermain untuk mereka sepulang sekolah? Itu juga belum cukup.

Ananda yang kini dalam masa golden age, akan berkembang hebat sesuai fitrahnya. Ananda juga dilahirkan dengan kecerdasan luar biasa. Tidak tanggung-tanggung. Mereka memiliki 8 jenis kecerdasan! Memang tidak semuanya optimal. Biasanya ada satu atau dua diantara 8 kecerdasan ini yang lebih dominan. Tentang 8 kecerdasan ini dan bagaimana cara mengotimalkannya, insya Allah akan kita bahas lain kali.

Fitrah yang dianugerahkan Allah jika tetap terjaga membuat anak konsisten dalam kebenaran. Jadi, tidak ada anak yang dilahirkan sebagai anak nakal atau suka bohong.

Bunda, untuk membuat fitrah dan kecerdasan ananda optimal, sekolah saja tidak cukup.

Bunda, Perhatian dan Kasih Sayang
Jika sekolah saja tidak cukup, lalu apa? Bunda, ananda membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Apalagi dalam masa-masa usia dini atau golden age ini.

Perhatian yang dibutuhkan ananda tidaklah sepanjang hari harus bersama bunda. Jika bunda termasuk orang yang sibuk, berarti kualitasnya yang perlu ditingkatkan. Meskipun tidak bisa mengantar mereka ke sekolah, bunda bisa tetap memberikan perhatian sejak bangun tidur. Mencium ananda, memandikan (bagi ananda yang belum bisa mandi sendiri), sampai sarapan bersama.

Ungkapan-ungkapan sayang perlu dberikan kepada ananda sebelum berpisah untuk berangkat. "Sekolahnya yang pinter sayang ya", "Bunda pasti kangen dengan ananda yang shalih ini,", dan sebagainya. Ingat, kalimat bunda harus kalimat positif. Bukan kalimat negatif.

Luangkan sedikit waktu bersama ananda sebelum berangkat. Bercanda dan bermain meski hanya beberapa menit dengan mereka. Mencontoh istilah Ali bin Abu Thalib, r.a. : "al ibuhum" saat ini memang masa mengajak ananda bermain. Beruntunglah jika bunda termasuk yang memiliki banyak waktu hingga bisa mengantar dan menjemput ananda.

Sepulang ananda sekolah atau sepulang bunda bekerja dan bertemu dengan ananda, berikan perhatian lagi kepada ananda. Di sekolah ananda sudah diserahkan kepada ustadzah, kemudian di rumah di serahkan kepada baby sitter, bukanlah pilihan yang tepat. Temani mereka. Luangkan waktu untuk mengajak ananda mengingat apa yang telah didapatkan di sekolah.

Perhatian dan kasih sayang ini begitu penting, bunda. Keduanya menjadi faktor penentu pertumbuhan intelegensia ananda juga. Bunda mungkin sekarang sudah mendengar bahwa banyak ananda yang mengalami pertumbuhan kecerdasan secara cepat setelah aktifasi otak tengah. Istilah yang populer AJI: Anak Jenius Indonesia. Lepas dari kontroversi aktivasi otak tengah, sebenarnya kunci kesuksesan pelatihan itu ditentukan oleh faktor perhatian orang tua. Makanya setiap pelatihan orang tua harus ikut untuk lebih dekat kepada mereka dan memberikan perhatian yang lebih dari biasanya.

Nah, kita ingin anak-anak kita terjaga fitrah dan berkembang kecerdasannya, bukan? Bukan hanya sekolah. Perhatian dan kasih sayang bunda adalah kuncinya. Setuju, bunda?[]


Arifatus Sholihah
Kepala KBIT Al-Ummah
Jl. Tanjung Wira VI No.44 GKB, Gresik
Read More - Bunda, Menyekolahkan Ananda saja Tidak Cukup

Sabtu, 12 Juni 2010 | 08.00 | 6 Comments

Guru Menentukan Masa Depan Anak Anda


Dalam film The Karate Kid yang baru diputar 2 hari ini di Indonesia, ditunjukkan bagaimana seorang guru menentukan masa depan muridnya. Cheng (Zhenwei Wang) dan teman-temannya yang menjadi murid Master Li (Rongguang Yu) sering membuat onar sepulang sekolah, mengedepankan kekerasan dalam menyelesaikan masalah, pendendam, dan tak kenal ampun. Sejalan dengan doktrin Master Li yang menjadi slogan mereka setiap latihan: “Tak kenal rasa takut, tak kenal rasa sakit, tak kenal ampun!”

Berbeda dengan Cheng, di bawah bimbingan Mr Han (Jackie Chan), Dre Parker (Jaden Smith) tumbuh menjadi seorang yang penuh kasih, cinta damai, dan memakai kekuatan untuk alasan yang benar. Sejak awal Mr Han memang mengajarkan bahwa hal pertama yang harus dikuasai adalah attitude. Sekolah formal kita memasukkannya sebagai aspek afektif. Mr Han juga mengajari bahwa the real kung fu bukan untuk melukai orang lain. Cinta damai diinternalisasikan dalam diri Dre dengan slogannya: “Pertarungan yang baik adalah menghindari pertarungan.”

Apa yang terjadi pada Cheng dan Dre juga bisa terjadi pada anak-anak kita. Guru sangat berpengaruh dalam kehidupan mereka. Guru akan menentukan masa depan mereka. Melalui pengajarannya. Melalui keteladanannya. Melalui interaksi murid dengan mereka. Semuanya akan membekas dan membentuk karakter anak-anak kita. Terlebih ketika anak-anak masih dalam usia dini. Sebuah masa yang dikenal dengan istilah golden age karena begitu pentingnya untuk meletakkan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Pendidikan formal anak-anak kita tentu saja tidak sama dengan pendidikan kung fu Cheng dan Dre. Namun ia bisa menjadi sama dalam bentuknya yang lain. Apa yang terjadi pada Cheng juga bisa terjadi pada anak-anak kita manakala guru hanya mengedepankan aspek kognitif. Yang penting ia sudah menyampaikan pelajaran. Yang penting muridnya sudah menguasai materi. Yang penting anak didiknya lulus ujian. Yang penting anak didiknya bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya. Guru tidak peduli pada perkembangan afeksi muridnya. Tidak peduli bagaimana akhlak murid terhadap guru dan orangtua. Tidak mau tahu bagaimana karakter muridnya terbangun, lalu sikapnya mulai meresahkan teman dan lingkungannya.

Sementara guru yang baik, ia akan sangat concern pada aspek afektif muridnya, sama concern-nya dengan perhatiannya pada perkembangan kognitif dan psikomotorik. Maka guru seperti ini tidak akan melupakan untuk menanamkan nilai pada muridnya. Membangun akhlak yang baik. Mendidik bersikap mulia. Mengajarinya kasih sayang dan tanggungjawab. Dan, yang lebih penting adalah, guru langsung menjadi teladan dalam hal ini. Bukan hanya teori.

Imam Al-Ghazali dalam buku Ihya' Ulumuddin menjelaskan bahwa guru yang baik seperti itu setidaknya harus memiliki delapan tugas atau karakter. Dan yang pertama adalah belas kasih kepada murid dan memperlakukan mereka seperti anak sendiri. Poin pertama ini sesungguhnya sangat luas dan dari sana saja sudah membawa dampak positif yang luar biasa besar. Belas kasih dalam persepktif Islam bukan hanya mengasihi sehingga murid merasa dicintai dan terjaga dari rasa sakit atau terluka di lingkungan sekolah. Lebih dari itu, guru akan memberikan yang terbaik baginya, bagi masa depannya. Sebagaimana ia menginginkan anaknya bahagia dunia akhirat, ia pun akan mendidik muridnya agar selalu berorientasi ridha Ilahi. Ia akan membimbing muridnya agar senantiasa berusaha memilih jalan menuju surga. Guru tidak akan berlaku keras terhadap muridnya, sebagaimana ia tidak ingin itu terjadi pada anaknya. Guru tidak membentak murid saat ia “menjengkelkan”, namun akan membentuknya hingga murid menyadari sikap-sikap yang bisa membuat jengkel orang lain, lalu meninggalkannya. Pada titik ini, sebenarnya konsep Al-Ghazali telah melampaui Quantum Teaching yang tujuannya adalah untuk meraih ilmu pengetahuan yang luas dengan berdasarkan prinsip belajar yang menyenangkan dan menggairahkan.

Kita mungkin akan kesulitan jika memilih guru satu persatu karena pendidikan formal anak kita tidak memungkinkan untuk itu. Yang bisa kita lakukan adalah memilih sekolah yang memiliki guru-guru seperti itu. Di sini setiap orang berhak untuk mengamati semua sekolah dan memberikan penilaian. Saya secara pribadi lebih mempercayai Sekolah Islam Terpadu (mohon maaf bagi yang tidak sependapat). Selain Sekolah Islam Terpadu sudah terbukti cukup berhasil dalam mengembangkan Pendidikan Berbasis Karakter dan karenanya menjadi sekolah favorit di semua kota, pengalaman telah mengajari saya. Ada bedanya ketika anak saya sekolah di Sekolah Islam Terpadu dan non SIT. Terutama pada attitude dan semangatnya untuk bersekolah.

O ya, nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh guru yang baik juga akan melahirkan kemampuan berinovasi. Di akhir film The Karate Kid, Dre bisa memenangkan turnamen terbuka meskipun salah satu kakinya patah. Bagaimana Dre bisa mengalahkan Cheng pada babak final itu dengan satu kaki? Ternyata Dre menggunakan jurus Kobra yang belum pernah diajarkan Mr. Han, Gurunya. Ia hanya mengamati saat seorang master mempraktikkannya di puncak The Great Wall (Tembok Besar). [Muchlisin, Sekretaris Yayasan Al-Ummah]
Read More - Guru Menentukan Masa Depan Anak Anda

Sabtu, 22 Mei 2010 | 08.00 | 5 Comments

Dolanan


Ketika aku mengingat-ingat, ternyata dulu aku masih suka bermain sampai usia belasan tahun. ketika aku mencoba mengingat lagi waktu itu aku duduk dibangku SMP. Ah... tapi anak-anak kita?? Waktu bermain sangat-sangat kita batasi. Coba kita menghitung, pagi berangkat ke sekolah sampai siang bahkan yang full day school sampai sore, setelah itu mengaji, istirahat sebentar, sholat maghrib, setelah itu harus belajar lagi, kemudian tidur. Belum lagi ada tambahan waktu les pelajaran sekolah, bahasa inggris, musik, menggambar, sempoa, jarimatika, atau yang lainnya. Cukup pusing kan??

Dulu kita merasakan kebahagiaan ketika bermain-main dengan teman-teman, rame-rame menyanyikan lagu:

Yo parakanca dolanan ing njaba
Padhang mbulan padhange kaya rina
Rembulane kang ngawe-ngawe
Ngilangake aja padha turu sore..


Setelah itu kami berlari, bersembunyi, melompat, menari dan apa saja...

Mari kita beri anak kita waktu untuk bermain yang cukup dengan tidak menafikkan tanggung jawabnya untuk belajar, karena ketika bermain dengan teman-teman hakikatnya mereka sedang belajar bersosialisasi, mereka belajar negosiasi, mereka belajar komunikasi, mereka belajar mengatur emosi, mereka belajar sportif dan banyak hal. Bila kita menginginkan anak yang cerdas dan bahagia berilah mereka kesempatan untuk bermain dengan teman-temannya.[]
Read More - Dolanan

Senin, 17 Mei 2010 | 09.00 | 4 Comments

Masa Kritis


Kecerdasan anak mulai terbentuk secara cepat ketika anak berada pada usia 0-5 tahun, tetapi dalam buku parenting masa yang sangat kritis disebutkan dari umur 0-3 tahun, karena saat itu kemampuan otak untuk tersambung dapat mencapai 1,8 juta sambungan per detik, jika kelewat 1 detik saja berarti 1,8 juta sambungan tak tersambungkan, betapa kritisnya masa itu..

Meskipun mereka belum bisa mengungkapkan tapi mereka perekam yang luar biasa dan mereka menyimpan bakat di masa depannya, apakah menjadi orang yang cerdas, percaya diri, penolong dan yang positif ataukah dia menyimpan bakat yang negatif. Hati-hati dengan apa yang akan kita rekamkan padanya. Jadi, Jangan sepelekan usia 0-3 tahun kehidupannya.

Allah memberikan waktu nifas bagi para ibu, dimana seorang ibu dibebaskan dari beberapa kewajiban untuk bisa memberikan kenyamanan bayi yang baru dilahirkannya, untuk dibimbing sepenuh hati dalam melangkah diawal kehidupannya di dunia. Saat menyusui adalah moment yang tepat untuk memberikan rekaman yang positif dengan melantunkan ayat-ayat Al Qur'an, berdialog, membacakan sholawat atau kalimat-kalimat yang positif sehingga mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang bahagia dan penuh percaya diri. Wahai ibu... jangan pernah lewatkan moment itu karena bila kita ingin anak kita sukses kelak tidak perlu menunggu 20 tahun lagi, mulai dari sekarang bisa dimulai.

Kisah seorang ibu, melihat anaknya lagi mengerjakan tugas bersama di rumahnya, seorang ibu terheran-heran melihat anaknya yang diam tidak punya pendapat dan inisiatif bahkan cenderung dijadikan pelayan untuk mengambil pensil atau kertas. Menyesal tiada arti, betapa selama ini dia salah mendidiknya.

Ibu... Bapak ... berikan pendidikan yang terbaik buatnya ketika masa-masa kritisnya jangan pernah lewatkan, jika kita tidak ingin menyesal kelak. [Nur Niswatin Agustina, S.Si, Kepala KBIT Al-Ummah]
Read More - Masa Kritis

Sabtu, 15 Mei 2010 | 13.00 | 2 Comments

Ingin Dikenang Seperti Apa oleh Anak Kita Nanti?


Dalam acara tujuh hari wafatnya Gus Dur, Innayah Wahid membacakan puisi yang membuat terharu jamaah yang hadir. Puisi berjudul “Karena Ayahku” itu ditulis untuk ayahnya, Gus Dur. “Kalau aku jadi orang dermawan, itu karena Ayahku yang mengajarkan. Kalau aku jadi orang toleran, itu karena Ayahku yang menjadi panutan. Kalau aku jadi orang beriman, itu karena Ayahku yang menjadi imam. Kalau aku jadi orang rendah hati, itu karena ayahku yang menginspirasi. Kalau aku jadi orang cinta kasih, itu karena ayahku memberi tanpa pamrih. Kalau aku bikin puisi ini, itu karena ayahku yang rendah hati.”

Pada hari yang sama, ada berita lain yang sangat kontras. Seorang pria Italia meludahi jenazah ibunya yang dimakamkan di Swiss. Rupanya, sewaktu kecil ia sering dipukuli ibunya. Itu membuatnya dendam sampai ia dewasa kini.

Kita, para orang tua, ingin dikenang seperti apa oleh anak kita nanti? Saat kita telah tiada. Saat kita meninggalkan mereka. Apakah kita ingin dibacakan puisi indah, atau di-”hadiahi “ ludah? Menjadi kenangan indah atau memori pahit yang dibalas sumpah serapah? Kita perlu sejenak berpikir mengenai masa itu.

...dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang dilakukannya untuk hari esok (QS. Al-Hasyr : 18)

Apa yang kita lakukan hari ini untuk anak kita, apa yang kita perbuat hari ini terhadap anak kita, akan lebih tepat jika telah sejalan dengan hasil masa mendatang yang kita inginkan. Orientasi masa depan. Dengan perspektif kesadaran anak-anak kita, nanti. Bukan sekarang.

Saat kita menginginkannya menjadi anak yang pintar, kita lantas memaksanya untuk terus dan terus belajar. Saat kita menginginkan anak kita menjadi penurut, kita mengancamnya dan membuat dia takut. Saat kita menginginkan anak kita menjadi pemberani, kita justru merenggut hal yang paling dibutuhkannya nanti: rasa percaya diri. Kita memang bisa memaksanya sekarang. Ia takkan melawan. Namun perasaannya yang terpendam bisa menggelegak keluar ketika sudah tak bisa tertahan dan ada kesempatan. Banyak kasus ini akan diluapkan saat orangtua tiada. Seperti cerita kedua di atas.

Memulai dari tujuan akhir. Demikian salah satu kebiasaan efektif yang dikemukakan Stephen R. Covey dalam buku The Seven Habits of Highly Effective People. Bahwa apa yang kita perbuat harus menuju tujuan akhir. Bahwa apa yang kita lakukan pada anak kita, apa yang kita perbuat untuk anak kita, perlu kita bawa dalam bingkai: “Bagaimana menurutnya saat besar nanti, atau kita telah tiada?”

Ini akan mendorong kita memperlakukan anak-anak dengan penuh kasih sayang. Membuat kita mendidik mereka dengan penuh cinta. Mengarahkan kita untuk berbuat yang terbaik baginya; bukan bagi kita.

Namun, lebih dari itu, jika kita berbuat banyak terhadap anak kita hanya dalam kerangka “apa yang akan kita dapatkan dari mereka” “bagaimana mereka mengenang kita” kita akan merugi. Mengapa? Sebab ada masa yang jauh lebih panjang dari sekedar “menuai kenangan”. Dan, saat kita meninggal kita tidak lagi membutuhkan pujian. Iya, bukan? Yang kita butuhkan adalah pahala dari Allah atas kerja-kerja membesarkan dan mendidik anak-anak kita. Yang kita butuhkan adalah amal jariyah saat segala amal telah terputus bersamaan dengan putusnya hubungan kita dengan dunia. Ini hanya dapat kita raih jika kita membesarkan dan mendidik anak kita dengan orientasi yang benar. Niat yang benar. Lillaahi ta’ala. Bahwa mereka amanah Allah, dan karenanya kita menunaikan amanah itu dengan sebaik-baiknya.

Maka sikap terbaik kita akan berbuah hal terbaik juga: anak-anak mengenang kita dengan indah, sekaligus mereka menjadi pahala jariyah. [Muchlisin, Sekretaris Yayasan Al-Ummah]
Read More - Ingin Dikenang Seperti Apa oleh Anak Kita Nanti?

Rabu, 12 Mei 2010 | 12.00 | 0 Comments

Game Online, Play Station, dan Anak-anak Kita


Hari itu masih pagi, sekitar jam delapan. Saya diundang adik-adik untuk memberikan training blog di sebuah warnet yang memiliki ruang tersendiri untuk training. Sambil menunggu peserta saya mengamati pengunjung warnet itu. Kebanyakan adalah wajah-wajah yang masih polos; anak-anak SD. Hampir semuanya main game online.

Ketika saya tanya kepada pemilik warnet, apakah mereka sering main game online? "Ya, mereka sering ke sini. Berjam-jam main game online. Bahkan ada yang sampai sore." Masya Allah, sampai separah itukah?

Fenomena lain yang sampai saat ini masih menjamur adalah rental-rental Play Station yang selalu ramai. Kalau kita jalan-jalan keliling kota, atau saat dalam perjalanan pulang dari tempat kerja, kita akan akan melihat betapa rental-rental Play Station itu tidak pernah sepi oleh anak-anak dan remaja yang gandrung PS-an. Mereka begitu asyik dan menikmati PS sampai lupa akan waktu.

Game online dan Play Station menjadi tantangan sendiri bagi kita para orangtua. Apalagi bagi kita yang sibuk dan "kurang perhatian" pada anak-anak kita. Kita hanya tahu bahwa kita telah menyekolahkan mereka, menyediakan makanan yang cukup bagi mereka, dan memberikan uang saku setiap hari kepada mereka. Kita tidak tahu jika ternyata uang saku itu digunakan untuk bermain game online atau play station. Pulang sekolah mereka mampir ke warnet atau rental PS. Yang lebih parah, ada yang sampai bolos sekolah demi game-game itu.

Bahaya Game Online dan Play Station bagi Anak-anak Kita
Ayah... Bunda... sadarilah betapa bahayanya game online dan play station bagi anak-anak kita. Tanpa menyadari bahayanya, mungkin ayah dan bunda masih menganggap ini biasa dan acuh tak acuh pada anak-anak kita.

Diantara bahaya itu adalah mengesampingkan ibadah. Shalat, misalnya. Pada anak yang diceriatakan pemilik warnet di atas, shalat Zhuhur dilewati begitu saja karena sore ia baru pulang dari warnet. Anehnya, kadang orang tua justru senang melihat anaknya "tidak merepotkan" dan "tidak membuat gaduh" di rumah seperti itu. Tahu-tahu ia pulang langsung masuk kamar dan tertidur.

Bahaya yang lain adalah melalaikan anak dari belajar. Padahal, belajar merupakan bekalnya menuju masa depan yang lebih baik. Seringkali tugas sekolahnya menjadi berantakan karena sudah kalah dengan game online dan play station. Jika, anak sudah berani bolos sekolah demi dua hal itu, bahaya yang lebih besar mengancam masa depannya.

Dampak psikologi juga tidak kalah berbahayanya bagi mereka. Umumnya game online yang diakses atau play station yang digemari anak-anak mengandung unsur kekerasan. Akumulasi dari interaksi dengan game berunsur kekerasan itu akan mempengaruhi kepribadian mereka dan membentuk mereka menjadi suka marah dan temperamental.

Bahaya berikutnya adalah masalah kesehatan. Depkominfo melalui Direktur Pemberdayaan Telematika Departemen Komunikasi dan Informatika pernah menyampaikan bahwa tidak sedikit pecandu games online yang sakit-sakitan bahkan hingga membawa korbannya kepada kematian akibat tidak mengenal waktu dalam mengakses permainan itu.

Apa yang Perlu Dilakukan Orang Tua?
Anak-anak kita adalah amanah Ilahi. Mereka juga buah hati sekaligus generasi penerus kita. Mereka pula lah penentu masa depan masyarakat dan negeri kita. Saat kita membiarkan mereka kecanduan game online dan play station, sama artinya kita membiarkan masa depan negeri ini menuju kehancurannya, dan harapan umat ini sirna.

Hal-hal yang perlu kita lakukan diantaranya adalah memberikan perhatian kepada mereka. Sesibuk apapun aktifitas dan pekerjaan kita, kita perlu meluangkan waktu untuk berbicara kepada mereka, menemani mereka dan bercanda dengan mereka. Perhatian itu juga kita ungkapkan saat ada momen-momen istimewa. Saat ia menerima rapot, saat ia mendapat nilai bagus waktu ualangan, dan sebagainya. Memberikan hadiah di saat-saat seperti itu adalah pilihan yang tepat.

Kita juga perlu memahami anak kita. Jika ia terlihat murung, mungkin ada masalah dengan temannya. Atau kesulitan di sekolah. Kita perlu menempatkan diri sebagai sahabat yang baik, tempat mereka curhat dan kemudian kita membimbing mereka serta membantu memberikan solusi.

Dekatnya hubungan kita dengan anak-anak akan membuat komunikasi kita berjalan lancar dan nasihat-nasihat kita didengar mereka. Kita bisa memahamkan mereka betapa bahayanya game online dan play station, terutama bagi yang kecanduan.

Orang tua juga perlu berkomunikasi secara periodik dengan guru untuk mengetahui perkembangan anaknya di sekolah. Dalam hal ini tidak cukup hanya mengandalkan buku penghubung. Guru yang paling tahu kondisi anak kita di sekolah pasti akan dengan senang hati menyampaikan perkembangan anak kita jika kita silaturahim langsung kepada beliau. Dan sebenarnya ini juga bisa kita lakukan saat kita menjemput anak kita, jika waktu kita sangat terbatas. Wallaahu a'lam. [Muchlisin, Sekretaris Yayasan Al-Ummah]
Read More - Game Online, Play Station, dan Anak-anak Kita
 
Pendaftaran

Paling Banyak Dibaca Pekan Ini

Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Jurnalborneo.com
Proudly powered by Blogger.com | Modif by AbuNida