Latar Belakang Visi Misi Nilai Keunggulan Struktur Organisasi Susunan Pengurus
TKIT Al-Ummah KBIT Al-Ummah TAAS Al-Ummah

Rabu, 02 Februari 2011 | 16.00 | 0 Comments

Maka, Bermainlah Anak Indonesia...


Fenomena dimana guru harus berpacu dengan tuntutan orangtua adalah pemandangan memprihatinkan di dunia dimana pendidikan telah menjadi komoditas. Pendidikan yang seharusnya bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia lebih direkomendasikan sebagai upaya memenuhi kebutuhan orangtua yang serba instan, dan pragmatis. Ironinya, orangtua seringkali lupa bahwa yang menjadi korban adalah anak-anak mereka sendiri, tidak terkecuali anak usia dini.

Berita di Kompas Rabu, 10-3-2010 adalah bukan temuan baru, dimana guru TK terpaksa mengajarkan baca tulis karena minat dan tuntutan orangtua. Seiring dengan kompetisi bimbingan belajar untuk memacu percepatan peningkatan nilai siswa SD hingga SMU, banyak anak-anak TK mengikuti les privat serupa lembaga bimbingan yang mentargetkan mereka sudah bisa menulis dan membaca dengan baik.

Pendidikan Tepat Sesuai Tahap Perkembangan Anak
Jauh sebelum muncul ide pelembagaan pendidikan kanak-kanak, Jean Piaget mengingatkan, anak-anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri. Guru, tentu saja, dapat menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dapat memahami sesuatu, ia harus membangun pengertian itu sendiri, ia harus menemukan sendiri (1972).

Psikolog yang banyak menghabiskan waktunya untuk meneliti anak usia dini itu menegaskan bahwa anak usia dini belajar melalui permainan mereka. Pengalaman bermain yang menyenangkan dengan bahan, benda, anak lain dan perhatian orang dewasa adalah faktor utama anak-anak berkembang secara fisik, emosi, kognisi dan sosial.

Karenanya, pendidikan anak harus selalu bepedoman pada tahap perkembangan anak. Upaya percepatan intelektual anak dengan memaksa mereka mengurangi waktu bermainnya dan menggantinya dengan pelajaran baca tulis tidak akan efektif bagi anak. Namun demikian, guru bisa menjadi fasilitator bagi anak dengan menyediakan pengalaman main yang mendukung perkembangan keaksaraannya.

Anak usia dini belajar melalui panca inderanya dan melalui hubungan fisik dengan lingkungan mereka. Anak akan dengan mudah mengingat huruf "A" yang dicetaknya dengan tanah liat daripada huruf "A" yang dicontohkan guru di papan tulis. Anak dengan sendirinya menemukan kata "Jingga" ketika ia mencampur air berwarna hijau dan kuning daripada kosakata warna yang diminta gurunya untuk dihafalkan. Sehingga upaya membangun konsep berfikir anak tanpa mengabaikan tahap perkembangannya seharusnya lebih diperhatikan pendidik anak usia dini daripada memaksa anak dengan upaya persuasif yang justru jauh dari edukatif.

Dalam tahapan pra operasionalnya, anak usia dini lebih memerlukan permainan yang memenuhi kebutuhan sensimotor dan pengetahuan simbolik daripada pengetahuan konkrit. Anak yang memiliki banyak pengalaman dalam mengamati bentuk dan warna menjadi lebih mudah ketika dikenalkan huruf dan simbol sebagai ketrampilan awal membaca. Begitu juga bagi anak yang tidak terbiasa menggerakkan tangannya untuk meremas, meronce, dan ketrampilan motorik halus lainnya, akan kesulitan ketika diminta memegang pensil untuk menulis. Pemenuhan yang tepat dan optimal terhadap kebutuhan sensorimotor dan pengetahuan simbolik sangat membantu anak untuk mengembangkan kemampuan intelektual yang diperlukan di sekolah dasarnya kelak.

Kerjasama Orangtua dan Pemerintah
Penyelenggaraan pendidikan yang tepat bagi anak usia dini tidak akan efektif tanpa kerjasama dari orangtua. Karenanya upaya membangun pengertian bersama melalui pertemuan berkala untuk mendiskusikan konsep tahap perkembangan anak adalah sebuah keharusan bagi mereka yang peduli terhadap pendidikan anak usai dini.

Pola pendidikan konservatif yang diliputi nuansa tekanan memaksa otak anak bekerja keras yang pada akhirnya membuat guru serta orangtua tersenyum menang melihat anak membaca buku atau menulis di kertas bergaris. Namun, kematangan emosionalnya tetap menuntut kepuasan yang tidak terpenuhi di usia dininya. Hal ini yang seringkali membuat anak tidak kooperatif dalam pergaulan sosialnya bahkan berpeluang besar membuat anak memilih sikap keras dan anarkis saat memaksa orang dewasa memenuhi kebutuhannya. Tepat kata James Baldwin yang dikutip Miranda Risang Ayu, bahwa "Children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them" (Ayu, 1998).

Namun, pola pendidikan yang sudah tepat di sekolah maupun di rumah tidak akan signifikan ketika guru dan orangtua tetap berhadapan dengan situasi sulit ketika SD menetapkan tes baca tulis bagi calon siswa kelas 1 SD. Dalam hal ini perlu tidak sekedar statement dari pemerintah bahwa hendaknya SD tidak menerapkan tes baca tulis bagi siswa TK. Perlu ada penyamaan persepsi terhadap tahap perkembangan anak dari segala tingkat pendidikan. Hal ini selayaknya menjadi kewajiban pemerintah sebagai pusat kebijakan. Disamping itu, fungsi supervisi berkala berpedoman pada tahap perkembangan anak harus benar-benar dioptimalkan. Sehingga kedepannya tidak ada lagi misalnya, wakil rakyat yang duduk di atas meja atau membanting buku atau mempermainkan microphone saat sidang. Bisa jadi mereka melakukan itu karena kebutuhan sensorimotor yang belum terpenuhi di usia dininya. Maka, jangan cegah anak usia dini untuk bermain![]


Penulis : Musrifah, S.Kom
Ustadzah TKIT Al Ummah
 
Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Jurnalborneo.com
Proudly powered by Blogger.com | Modif by AbuNida