Latar Belakang Visi Misi Nilai Keunggulan Struktur Organisasi Susunan Pengurus
TKIT Al-Ummah KBIT Al-Ummah TAAS Al-Ummah

Senin, 23 April 2012 | 08.00 | 0 Comments

Gadis kecil yang bercita-cita menjadi guru itu…


Ketika anak-anak Al Ummah riuh tertawa sambil bermain air dan pasir, melukis, mencampur dan menemukan warna, jauh di belakang zaman, seraut wajah bulat kanak-kanak tampak kecewa. Bening mutiara berjatuhan di pipi cempluknya. Ia tidak diijinkan bermain bunga dan tanah. Ia tidak mengerti kenapa si mbok begitu menjaga kehalusan tangannya. Gadis kecil itu tidak butuh perhatian dan rasa hormat yang luar biasa padanya. Gadis kecil itu hanya ingin bermain bebas dimana saja dengan siapa saja.

Di Al Ummah, kita bertasbih mendengar anak-anak terbiasa melafalkan surat-surat dalam Al Quran, melafalkan hadist dan doa beserta artinya. Disana si gadis kecil di hardik dan diusir. Sang guru ngaji tidak suka ia banyak bertanya Sungguh…ia hanya ingin tahu terjemahan Al Qur’an yang dibacanya. Sang guru menganggap pertanyaannya tabu luar biasa.

Belum genap 6 tahun usianya ketika gadis kecil itu memasuki sekolah dasar. Tempat ia begitu penasaran dengan satu kata, “cita-cita”. Lagi-lagi mata beningnya berkaca-kaca ketika kakak laki-lakinya menjawab pertanyaannya.

“Wanita Jawa? Tentu saja jadi permaisuri atau….jadi ronggeng” jawab kakaknya enteng.

“Tidak, aku harus jadi sesuatu yang lebih berarti” tekad sang gadis kecil dalam hati.

Menginjak remaja, gadis itu tak kuasa melawan konsekwensi darah ningrat yang mengalir dalam tubuhnya di 12 tahun usianya. Burung lincah itu harus tetap dalam sangkarnya.

Namun, dalam pingitan di penjaranya yang penuh ukir aristokrat Jawa, ia memperoleh jawaban atas pertanyaannya. Guru. Ya…dengan menjadi guru ia bisa memberikan ilmu pengetahuan kepada rakyatnya yang terjajah. Dengan menjadi guru ia berpeluang memberikan pendidikan bagi negeri yang sangat dicintainya. Dengan menjadi guru berarti pula ia membuka gerbang perubahan untuk bangsanya ke masa yang lebih maju dan beradab.

Di zaman dimana tulis menulis adalah expensive & impossible activity bagi pribumi Jawa, apalagi wanita. Sang gadis Jawa tulen itu telah menuliskan ratusan surat berbahasa Belanda. Surat-surat yang membawa serta gagasan, pemikiran, kritik bahkan blueprint untuk pendidikan dan kesejahteraan rakyatnya itu telah menggetarkan tangan para pejabat Belanda yang menerima surat-suratnya.

Melalui tinta penanya, seni ukir Jepara dan Batik Jawa hasil karya tangan-tangan pribumi yang tak pernah mengenyam sekolah dihargai di mata dunia. Melalui tinta penanya, tergopoh-gopoh para politikus etis Belanda berebut mendukung berdirinya sekolah untuk pribumi Jawa.

“Tak boleh lama” kata hati si gadis berapi-api. Selepas masa pingitannya, masih di belasan tahun usianya, dibukalah sekolah dasar gadis pribumi pertama di Jawa, bahkan di Indonesia. Gadis yang beranjak dewasa itu menyebut sekolahnya sebagai ‘Sebuah Keluarga Besar yang Akrab’.

Pagi yang cerah. Ketika sang gadis mengajar baca tulis dan ketrampilan hidup pada anak-anak pribumi di sekolahnya, sebuah surat menggenapkan kebahagiaannya. Permohonan beasiswa studi di Belanda terwujud. Siapa sangka? Hati agung sang gadis lebih ningrat dari namanya. Ia berikan beasiswa yang sudah di depan mata kepada salah satu putra terbaik bangsa yang tidak pernah dikenalnya, Agus Salim. Ia percayakan kelas mungilnya yang makin ramai dengan tawa siswa kepada adik-adik binaannya.

Gadis itu memilih untuk menyambut surat yang datang beberapa hari kemudian. Dari Bupati Rembang yang telah mendengar sepak terjangnya dan memohon diizinkan mendukung perjuangannya.

“Ataukah karena sekarang ini ada kesempatan yang lebih baik lagi untuk mewujudkan cita-cita saya hendak bekerja untuk bangsa kami? Di sisi seorang laki-laki yang cakap dan mulia, yang saya hormati, yang bersama saya mencintai rakyat kecil dan yang akan membantu saya sekuat tenaga di dalam usaha saya, saya akan dapat jauh lebih banyak bekerja untuk bangsa kami daripada yang mungkin akan dapat kami lakukan sebagai dua orang perempuan yang berdiri sendiri”
(RA Kartini, 1 Agustus 1903)

Tentu saja, kata kita, Kartini tidak perlu demikian jika ia hidup di zaman ini dimana begitu banyak orang yang ingin jadi guru (meski beragam motivasinya). Namun, dizamannya, Kartini adalah single fighter di kancah pendidikan. Ia memahami bahwa kemerdekaan negerinya tidak cukup diperjuangkan dengan darah tapi kemerdekaan yang berkualitas membutuhkan pendidikan yang berkualitas.

Kartini lebih memilih menjadi “Ibu Masyarakat” (tulis Kartini) dengan mengasuh enam anak Bupati Rembang dan membuka sekolah baru di rumah suami yang mendukung lahir batin perjuangannya. Hanya satu motivasi dibalik luasnya samudra pengorbanannya-keikhlasannya, sebagaimana yang ia tulis dalam suratnya “Jalan kepada Allah – jalan ke arah kebebasan sejati hanyalah satu. Siapa yang sesungguhnya mengabdi kepada Allah, tidak terikat kepada seorang manusia pun, ia sebenar-benarnya bebas” (RA Kartini, Oktober 1900)[]


Penulis : Musrifah, M.Med Kom
Pendidik di Al Ummah Gresik
 
Copyright © 2010 - All right reserved | Template design by Herdiansyah Hamzah | Published by Jurnalborneo.com
Proudly powered by Blogger.com | Modif by AbuNida