
Pemerintah melihat pendidikan Islam terpadu memiliki peran strategis di negara ini. "Sekolah Islam Terpadu yang berbasis Islam bisa menjadi agent of change, untuk menciptakan manusia bermoral, punya kepedulian dan nasionalitas," ungkap Menteri Negara Riset dan Teknologi, Suharna Surapranata, di depan ratusan peserta lokakarya nasional Jaringan Sekolah Islam Terpadi (JSIT) di Jakarta, Sabtu (5/2).
Menristek berpendapat bahwa pendidikan karakter begitu penting untuk ditanamkan sejak dini. Melalui pendidikan karakter, dunia pendidikan tak hanya menghasilkan manusia cerdas dan memiliki keterampilan, tapi juga memiliki integritas dan profesionalitas.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Jalal, melihat sekolah Islam terpadu selama ini menjadi garda terdepan dalam upaya membangun karakter bangsa. Pemerintah sendiri menurut dia, sejak awal berusaha membangun pendidikan karakter bangsa karena banyak keraguan yang menghinggapi bangsa ini.
"Satu-satunya cara untuk mengembalikan keraguan dan kepercayaan bangsa ini ialah dengan mengintervensi anak didik melalui pendidikan," katanya dalam lokakarya nasional yang bertajuk "Pendidikan Karakter dan Sosialisasi Standar Mutu Sekolah Islam Terpadu" itu.
Standar Baku
Pendidikan karakter bangsa, ungkap Ketua Umum JSIT Indonesia. Sukro Muhab, sudah ada dalam konsep terpadu yang diangkat sejak awal oleh JSIT. "Kita telah mengembangkan pendidikan karakter sejak tahun 1993, yaitu akhlakul karimah," ucap ketua umum JSIT yang juga merangkap direktur PP IPTEK tersebut.
Dalam lokakarya ini, akan ada deklarasi dan tekad bersama dari seluruh guru, kepala sekolah, dan ketua yayasan sekolah Islam terpadu untuk membangun bangsa ini melalui pendidikan karakter. Lokakarya ini juga akan memantapkan dan menyosialisasikan konsep dasar dan standar mutu sekolah Islam terpadu.
Menurut Sukro, sejak tahun 1993, sekolah Islam terpadu berkembang pesat. Namun, masing-masing mempunyai cara sendiri dalam mengembangkan kurikulumnya.
Karena perbedaan tersebut, perlu ada standar baku mutu. Ada beberapa hal yang akan menjadi standar baku. Yakni, standar konsep, isi, pengelolaan, pembinaan siswa, keuangan, kerja sama, dan standar pendidikan Islam.
Dalam standar pendidikan Islam, menurut Sukro, bukan hanya mengajarkan Islam seperti dalam pelajaran agama di sekolah umum. Pengajaran lebih kepada makna dan aplikasinya.
"Kita memperkenalkan rukun Islam melalui ayat-ayat di Alquran, lalu aplikasinya shalat lima waktu," paparnya. Standar ini juga digunakan sebagai percepatan pengenalan Islam ke anak didik. "Biasanya diajarkan shalat kelas 3 SD maka di sekolah Islam terpadu di kelas 1 SD."
Standar pendidikan Islam hanya menyangkut beberapa muatan tertentu. Sistem pendidikan ini tetap menjaga kearifan lokal.
"Kalau di Yogyakarta, misalnya, ada sekolah Islam terpadu setiap hari Jumat, misalnya harus berbahasa Jawa maka itu harus dipertahankan," ungkapnya.
Saat ini JSIT terdiri atas 747 TKIT, 438 SDIT, 127 SMPIT, 32 SMAIT, tiga SMKIT, dan tiga Perguruan Tinggi Islam Terpadu. Sehingga jumlah totalnya mencapai 1.350 sekolah yang membawahi ribuan anak didik. [Ichsan Emrald Alamsy, ed: nina chairani]
Sumber: Republika edisi Ahad, 6 Februari 2011 hal. 2
Menristek berpendapat bahwa pendidikan karakter begitu penting untuk ditanamkan sejak dini. Melalui pendidikan karakter, dunia pendidikan tak hanya menghasilkan manusia cerdas dan memiliki keterampilan, tapi juga memiliki integritas dan profesionalitas.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Jalal, melihat sekolah Islam terpadu selama ini menjadi garda terdepan dalam upaya membangun karakter bangsa. Pemerintah sendiri menurut dia, sejak awal berusaha membangun pendidikan karakter bangsa karena banyak keraguan yang menghinggapi bangsa ini.
"Satu-satunya cara untuk mengembalikan keraguan dan kepercayaan bangsa ini ialah dengan mengintervensi anak didik melalui pendidikan," katanya dalam lokakarya nasional yang bertajuk "Pendidikan Karakter dan Sosialisasi Standar Mutu Sekolah Islam Terpadu" itu.
Standar Baku
Pendidikan karakter bangsa, ungkap Ketua Umum JSIT Indonesia. Sukro Muhab, sudah ada dalam konsep terpadu yang diangkat sejak awal oleh JSIT. "Kita telah mengembangkan pendidikan karakter sejak tahun 1993, yaitu akhlakul karimah," ucap ketua umum JSIT yang juga merangkap direktur PP IPTEK tersebut.
Dalam lokakarya ini, akan ada deklarasi dan tekad bersama dari seluruh guru, kepala sekolah, dan ketua yayasan sekolah Islam terpadu untuk membangun bangsa ini melalui pendidikan karakter. Lokakarya ini juga akan memantapkan dan menyosialisasikan konsep dasar dan standar mutu sekolah Islam terpadu.
Menurut Sukro, sejak tahun 1993, sekolah Islam terpadu berkembang pesat. Namun, masing-masing mempunyai cara sendiri dalam mengembangkan kurikulumnya.
Karena perbedaan tersebut, perlu ada standar baku mutu. Ada beberapa hal yang akan menjadi standar baku. Yakni, standar konsep, isi, pengelolaan, pembinaan siswa, keuangan, kerja sama, dan standar pendidikan Islam.
Dalam standar pendidikan Islam, menurut Sukro, bukan hanya mengajarkan Islam seperti dalam pelajaran agama di sekolah umum. Pengajaran lebih kepada makna dan aplikasinya.
"Kita memperkenalkan rukun Islam melalui ayat-ayat di Alquran, lalu aplikasinya shalat lima waktu," paparnya. Standar ini juga digunakan sebagai percepatan pengenalan Islam ke anak didik. "Biasanya diajarkan shalat kelas 3 SD maka di sekolah Islam terpadu di kelas 1 SD."
Standar pendidikan Islam hanya menyangkut beberapa muatan tertentu. Sistem pendidikan ini tetap menjaga kearifan lokal.
"Kalau di Yogyakarta, misalnya, ada sekolah Islam terpadu setiap hari Jumat, misalnya harus berbahasa Jawa maka itu harus dipertahankan," ungkapnya.
Saat ini JSIT terdiri atas 747 TKIT, 438 SDIT, 127 SMPIT, 32 SMAIT, tiga SMKIT, dan tiga Perguruan Tinggi Islam Terpadu. Sehingga jumlah totalnya mencapai 1.350 sekolah yang membawahi ribuan anak didik. [Ichsan Emrald Alamsy, ed: nina chairani]
Sumber: Republika edisi Ahad, 6 Februari 2011 hal. 2
