
Membatik di mana-mana
Membatik di mana-mana
Enak to, mantep to, gampang to
Membatik, I love you full, ha ha ha...
Lagu "Tak Gendong" yang dipopulerkan almarhum Mbah Surip itu diganti liriknya oleh anak-anak dari Kelompok Bermain Al Ummah, Kabupaten Gresik. Ada keriangan di wajah mereka, meskipun tangan, wajah, dan sebagian pakaian mereka ikut kotor terkena pewarna dan malam yang digunakan untuk membatik.
Para guru yang mendampingi harus ekstra sabar menghadapi ulah bocah-bocah itu. Anak-anak itu belajar membatik pada selembar kain putih seukuran sapu tangan yang diberi nama mereka masing-masing. Namun, nama gambar dasar batiknya beragam, antara lain bergambar sapi, unta, singa, dan gajah. Motif batik yang dicanting adalah sisik bandeng. Mereka belajar membatik di Griya Batik Gresik, Selasa (1/6).
Mereka belajar membatik dengan tekun, diawasi sejumlah guru. Seusai membatik, mereka menyanyikan tahapan proses membatik bersama- sama, "Mencanting, ndulit, menembok, mencelup, memelorot, dan menjemur." Kain yang telah mereka batik pun bisa dibawa pulang untuk oleh-oleh yang ditunjukkan pada ayah ibunya.
Evis, Icha, Fawaz, Aqila, Rahma, terlihat menikmati kegiatan belajar membatik. Tangan-tangan mereka mencelupkan alat ndulit dari rotan yang dibuat mirip pensil, tetapi ukurannya lebih besar, lalu memberi warna beda-beda pada kain yang sudah dicanting. Namanya juga anak-anak, ada yang memberi warna yang sama pada seluruh kain yang telah dicanting.
Bahkan, ada yang sekadar mencoret-coret motif yang dibatik. Namun ketika ditanya sedang ngapain, mereka menjawab membatik. Tetapi ada juga yang menjawab sedang mewarnai. Hal itu tidak mengurangi semangat mereka belajar membatik. "Membatik mudah, kayak mewarnai," kata Icha. Secara bergantian setelah usai mendulit, mereka menjemur kain mereka masing-masing. Setelah kering satu per satu bocah-bocah itu menembok kain yang telah dibatik dengan sistem ndulit. Seusai ditembok, kain dicelupkan untuk dilorot malamnya. Setelah itu dijemur lagi. Saat kering, bocah-bocah itu membawa kain masing-masing yang telah dibatik.
Mengenalkan budaya
Menurut Kepala Sekolah Kelompok Bermain Al Ummah Gresik Nur Niswatin, siswa diajak membatik agar sejak dini mengenal karya budaya bangsa yang adiluhung itu. Intinya menumbuhkan pada anak untuk menghargai budaya bangsa. "Jangka panjangnya selain anak-anak mencintai batik juga bagian dari pelestarian budaya bangsa. Jangan terulang lagi batik diklaim bangsa lain," tuturnya.
Pemilik Griya Batik Gresik, Siti Zunaiyah Budarty (47), yang akrab disapa Arty Israwan merasa senang bisa mengajarkan proses membatik pada anak-anak. Dia berharap tempatnya membatik bisa dijadikan sarana belajar bagi anak mulai kelompok bermain hingga SMA. Masyarakat umum pun juga bisa belajar membatik di sana.
"Saya pikir, kalau yang datang ke sini ingin membatik sendiri, lalu hasilnya bisa dibawa pulang akan lebih puas. Kainnya dibatik sendiri dan dipakai sendiri. Harganya pun jauh lebih murah daripada membeli kain batik," katanya.
Motif yang disiapkan Arty di antaranya sisik bandeng, mahkota giri, taman laut, dan sekar giri ayu. Motif batik itu diangkat dari ciri Gresik sebagai Kota Santri, kotanya para wali.
Dia berharap bila batik dikenalkan sejak dini, anak-anak muda akan semakin mencintai batik. Sekarang kain batik bukan sekadar untuk pakaian formal, namun dengan rancangan khusus, kain batik bisa nyaman dikenakan kapan saja sesuai kebutuhan.
[Oleh: Adi Sucipto Kisswara. Sumber: Kompas, Kamis, 10 Juni 2010, halaman A]
Membatik di mana-mana
Enak to, mantep to, gampang to
Membatik, I love you full, ha ha ha...
Lagu "Tak Gendong" yang dipopulerkan almarhum Mbah Surip itu diganti liriknya oleh anak-anak dari Kelompok Bermain Al Ummah, Kabupaten Gresik. Ada keriangan di wajah mereka, meskipun tangan, wajah, dan sebagian pakaian mereka ikut kotor terkena pewarna dan malam yang digunakan untuk membatik.
Para guru yang mendampingi harus ekstra sabar menghadapi ulah bocah-bocah itu. Anak-anak itu belajar membatik pada selembar kain putih seukuran sapu tangan yang diberi nama mereka masing-masing. Namun, nama gambar dasar batiknya beragam, antara lain bergambar sapi, unta, singa, dan gajah. Motif batik yang dicanting adalah sisik bandeng. Mereka belajar membatik di Griya Batik Gresik, Selasa (1/6).
Mereka belajar membatik dengan tekun, diawasi sejumlah guru. Seusai membatik, mereka menyanyikan tahapan proses membatik bersama- sama, "Mencanting, ndulit, menembok, mencelup, memelorot, dan menjemur." Kain yang telah mereka batik pun bisa dibawa pulang untuk oleh-oleh yang ditunjukkan pada ayah ibunya.
Evis, Icha, Fawaz, Aqila, Rahma, terlihat menikmati kegiatan belajar membatik. Tangan-tangan mereka mencelupkan alat ndulit dari rotan yang dibuat mirip pensil, tetapi ukurannya lebih besar, lalu memberi warna beda-beda pada kain yang sudah dicanting. Namanya juga anak-anak, ada yang memberi warna yang sama pada seluruh kain yang telah dicanting.
Bahkan, ada yang sekadar mencoret-coret motif yang dibatik. Namun ketika ditanya sedang ngapain, mereka menjawab membatik. Tetapi ada juga yang menjawab sedang mewarnai. Hal itu tidak mengurangi semangat mereka belajar membatik. "Membatik mudah, kayak mewarnai," kata Icha. Secara bergantian setelah usai mendulit, mereka menjemur kain mereka masing-masing. Setelah kering satu per satu bocah-bocah itu menembok kain yang telah dibatik dengan sistem ndulit. Seusai ditembok, kain dicelupkan untuk dilorot malamnya. Setelah itu dijemur lagi. Saat kering, bocah-bocah itu membawa kain masing-masing yang telah dibatik.
Mengenalkan budaya
Menurut Kepala Sekolah Kelompok Bermain Al Ummah Gresik Nur Niswatin, siswa diajak membatik agar sejak dini mengenal karya budaya bangsa yang adiluhung itu. Intinya menumbuhkan pada anak untuk menghargai budaya bangsa. "Jangka panjangnya selain anak-anak mencintai batik juga bagian dari pelestarian budaya bangsa. Jangan terulang lagi batik diklaim bangsa lain," tuturnya.
Pemilik Griya Batik Gresik, Siti Zunaiyah Budarty (47), yang akrab disapa Arty Israwan merasa senang bisa mengajarkan proses membatik pada anak-anak. Dia berharap tempatnya membatik bisa dijadikan sarana belajar bagi anak mulai kelompok bermain hingga SMA. Masyarakat umum pun juga bisa belajar membatik di sana.
"Saya pikir, kalau yang datang ke sini ingin membatik sendiri, lalu hasilnya bisa dibawa pulang akan lebih puas. Kainnya dibatik sendiri dan dipakai sendiri. Harganya pun jauh lebih murah daripada membeli kain batik," katanya.
Motif yang disiapkan Arty di antaranya sisik bandeng, mahkota giri, taman laut, dan sekar giri ayu. Motif batik itu diangkat dari ciri Gresik sebagai Kota Santri, kotanya para wali.
Dia berharap bila batik dikenalkan sejak dini, anak-anak muda akan semakin mencintai batik. Sekarang kain batik bukan sekadar untuk pakaian formal, namun dengan rancangan khusus, kain batik bisa nyaman dikenakan kapan saja sesuai kebutuhan.
[Oleh: Adi Sucipto Kisswara. Sumber: Kompas, Kamis, 10 Juni 2010, halaman A]

3 komentar:
PERTAMAX GAN... duh bahagianya seorang orang tua yang mempunyai anak yang lucu, cantik dan sholih.
Setiap berkunjung ke sini untuk komen, selalu ada terobosan. Liputan media menggambarkan kualitas sebuah lembaga. Salut untuk SIT. Kalau di kecamatan Semarang Barat SIT setingkat KB di mana ya?
seru juga ya... pingin mengajak anak-anak juga
Posting Komentar